Harga Plastik di Pasar Tradisional Tasikmalaya Merangkak Naik Mencapai 50 hingga 80 Persen

Kristiadi
08/4/2026 20:42
Harga Plastik di Pasar Tradisional Tasikmalaya Merangkak Naik Mencapai 50 hingga 80 Persen
Harga gelas plastik cup di pasaran mulai merangkak naik dua kali lipat dari biasanya dan kini para pedagang menjual Rp 27 ribu per pax semula hanya Rp 17 ribu perpax.(MI/KRISTIADI)

HARGA kebutuhan plastik di sejumlah pasar tradisional merangkak naik 50 hingga 80 persen disebabkan bahan baku industri plastik mengalami kenaikan dua kali lipat atas konflik di Timur Tengah hingga geopolitik. Kenaikan harga plastik berdampak pada komoditas pasar yang menggunakan media plastik sebagai kemasan.

Didin, 55, pedagang kios plastik pasar Cikurubuk mengatakan, kebutuhan plastik dari berbagai jenis yang dijual sekarang ini merangkak naik mencapai 50 hingga 80 persen mulai cup gelas plastik biasanya Rp 17 ribu naik Rp 27 ribu perpax, kantong kresek Rp 10 ribu naik menjadi Rp 15 ribu perpax, plastik bening Rp 5 ribu naik Rp 7.500 per 100 lembar. Namun, kenaikan tersebut disebabkan dari bahan baku industri plastik mengalami kenaikan karena terjadinya konflik di Timur Tengah hingga geopolitik.

"Kenaikan bahan baku, telah menyebakan permintaan pasar menurun dan selama ini banyak perusahan mengurangi produksi. Akan tetapi, para pedagang memang plastik memiliki peranan sangat penting dalam pemenuhan bahan kebutuhan pokok bagi masyarakat dan fungsinya sebagai pendukung komoditas kemasan," ujar Didin, Rabu (8/4/2026).

Menurut Didin, kenaikan harga plastik bisa terus terjadi dan akan semakin mengalami kelangkaan termasuk kosongnya berbagai jenis plastik mulai berbagai ukuran, kalau konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran tidak berhenti. Karena, kenaikan bahan baku sekarang ini telah menyebabkan perusahan mengurangi jumlah produksi.

"Pedagang mengeluhkan kenaikan ukuran plastik dua kali lipat dan sekarang pembeli mulai banyak membawa kantong sendiri di rumahnya, lantaran kebutuhan plastik yang ada di pasaran mulai menipis. Kami tetap berharap, agar konflik yang terjadi di Timur Tengah segera selesai supaya tidak terjadi krisis ekonomi yang dapat menyebabkan berbagai kebutuhan merangkak naik," katanya.

Sementara itu, pengusaha plastik dollar Tasikmalaya, Eso Karso mengatakan, kebutuhan bahan baku industri plastik saat ini telah mengalami kenaikan dua kali lipat disebabkan konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran terjadi geopolitik. Kenaikan bahan baku, menyebabkan permintaan pasar menurun dan bagi perusahan terpaksa mengurangi jumlah produksi.

"Konflik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dan biaya produksi petrokimia ikut meningkat hingga berdampak pada harga biji plastik yang kini mengalami kenaikan dua kali lipat. Namun, kondisi sekarang ini telah meningkatnya biaya logistik membuat distribusi sangat risiko bagi keamanan di jalur perdagangan," ujarnya.

Menurutnya, konflik di Timur Tengah yang terjadi berdampak pada kebutuhan bahan baku plastik dan menyebabkan pasokan hingga kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan bahan baku plastik yang terjadi mulai terasa ke sektor industri termasuk prdagang plastik di pasaran lantaran dari perusahan mengurangi produksi.

"Pemerintah tidak menaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tapi tekanan global tetap berpengaruh langsung terutamanya pada rantai pasok bahan baku plastik. Kenaikan tersebut, dipicu terganggunya distribusi minyak dan gas dunia hingga terjadinya dua komoditas utama menjadi bahan dasar produksi plastik terdampak," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya