BPBD Purbalingga Mulai Mitigasi  Kekeringan Dampak El Nino Godzilla

Lieliek Dharmawan
08/4/2026 16:28
BPBD Purbalingga Mulai Mitigasi  Kekeringan Dampak El Nino Godzilla
Ilustrasi krisis air bersih(Liliek Dharmawan / MI)

PEMERINTAH Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mulai memitigasi kekeringan pada musim kemarau 2026 yang ditandai fenomena El Nino Godzilla. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Purbalingga Revon Haprindiat mengatakan langkah antisipatif tersebut dilakukan untuk menekan dampak kemarau panjang sebagaimana prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

“Sejumlah persiapan sudah kami lakukan, salah satunya melalui rapat koordinasi bersama PDAM, PMI, dan Baznas guna memastikan ketersediaan suplai air bersih bagi masyarakat,” ujarnya pada Rabu (8/4).

BPBD tengah menyiapkan surat keputusan (SK) penetapan status kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai landasan percepatan penanganan apabila kondisi darurat terjadi.

Untuk memperkuat upaya tersebut, BPBD turut mengajukan tambahan anggaran kepada pemerintah daerah serta memastikan kesiapan armada distribusi air bersih. “Kami telah mengecek kesiapan armada agar dapat segera dikerahkan ketika dibutuhkan,” katanya.

Dalam menentukan wilayah prioritas, BPBD mengacu pada data kejadian kekeringan ekstrem pada musim kemarau 2023. Saat itu, sebanyak 91 desa atau kelurahan di 16 kecamatan terdampak, dengan total distribusi air bersih mencapai 2.597 tangki atau sekitar 11,6 juta liter selama 108 hari.

Distribusi tersebut dilakukan dengan mengerahkan armada tangki milik BPBD, didukung kendaraan dari PDAM dan PMI. “Data ini menjadi acuan kami untuk menentukan wilayah prioritas, terutama daerah yang rutin mengalami krisis air bersih saat kemarau,” tegasnya.

BPBD juga melakukan pemetaan ulang sumber mata air pascabanjir dan longsor yang terjadi pada akhir Januari 2026. Salah satu sumber yang sempat terdampak, yakni mata air Sikopyah, kini sudah kembali dapat dimanfaatkan oleh masyarakat meski masih dalam tahap perbaikan permanen.

“Untuk sementara sudah bisa digunakan warga, dan saat ini masih dalam proses perbaikan agar lebih optimal,” jelasnya.

Selain ancaman kekeringan, BPBD Purbalingga juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya di kawasan lereng Gunung Slamet yang rawan terbakar saat musim kemarau.

Upaya pencegahan, ujar dia, dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya karhutla serta pentingnya menjaga lingkungan.

“Kami juga menyiapkan kesiapan teknis dan regulasi sebagai langkah antisipasi jika terjadi kebakaran hutan maupun lahan,” pungkasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya