Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DARI luar, tampilan warung kopi ini sangat sederhana. Warung ini menempati halaman rumah salah seorng warga.
Namun, pengunjung bisa menikmati kopi sepuasnya dengan membayar seikhlasnya. Pemilik warung tak mematok tarif untuk sekali minum kopi setiap Jumat.
Pemilik warung kopi ini adalah dua sahabat penyandang disabilitas, Uwes Kurni, 31, dan Wildan Wiguna, 25. Warung yang terletak di Kampung Cibungbulang, Desa Cisomang Barat Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat ini dinamai Warung Difabel Bersatu.
Uwes mengalami keterbatasan fisik akibat kecelakaan kerja pada 2011. Akibat terjepit crane, kedua kakinya harus diamputasi. Sementara Wildan terkena penyakit TBC tulang sejak umur 2 tahun yang membuatnya menderita penyakit tulang belakang.
Dengan bermodal Rp100 ribu pemberian seseorang, mereka membangun warung kopi atas ide salah seorang anggota TNI. Tujuannya agar kaum disabilitas bisa lebih mandiri dan tidak direndahkan orang lain.
"Kami buat ide bagaimana kalau tiap Jumat, pengunjung bisa menikmati kopi sepuasnya dengan membayar seikhlasnya. Kami tak mematok tarif, mau bayar berapapun, bahkan hingga gratispun kami ikhlas," kata Uwes di warungnya, Rabu (3/4).
Baca juga: Caleg Partai NasDem Pejuang Hak Disabilitas
Tidak mudah bagi Uwes bangkit pascakedua kakinya diamputasi. Kekalutan yang dialaminya semakin bertambah karena dia gagal merajut cinta dengan calon istrinya karena musibah itu.
"Setelah dioperasi, saya hanya bisa diam di rumah, sekitar 2014, saya join buka usaha jualan pulsa tapi akhirnya bangkrut. Kemudian ada teman dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) yang mendorong, mengajak saya bangkit hingga sekarang bisa mendirikan warung sederhana sejak pertengahan Maret," ujarnya.
Selain tempat minum kopi, warung ini dijadikan sebagai tempat kumpul dan bersilaturahim kaum disabilitas di Cikalongwetan. Menurut Uwes, banyak pihak yang memberikan bantuan agar usahanya ini terus berlanjut.
"Selain berdagang kopi, kami berdua juga berjualan merchandise Persib sumbangan dari rekan-rekan Bobotoh di Bandung yang peduli terhadap kaum disabilitas seperti kami," ungkapnya.
Wildan menyatakan, pantang meminta-minta kepada orang lain. Sejak lulus SMK, berbagai pekerjaan pernah dia lakoni, mulai dari kuli bangunan, tukang makanan cireng, penjual burung, sampai kerja di pabrik kardus hingga kini membuka jasa cuci motor.
"Pokoknya, saya kerjakan apa saja selama saya mampu dan pekerjaannya itu halal, yang penting tidak meminta-minta. Masalah rezeki belakangan, karena prinsip kami yang penting usaha," kata Wildan.
Uwes dan Wildan berharap, usahanya bisa semakin berkembang sehingga dapat memberdayakan teman-teman yang seperti mereka. "Cita-citanya ingin lebih maju, tambah lagi modal supaya dagangannya lebih banyak," tandasnya. (X-15)
15.789 peserta termasuk 13 di antaranya penyandang disabilitas mengikuti UTBK SNBT (Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) di Kampus Universitas Gadjah Mada.
UTBK sebanyak 18 sesi itu dilaksanakan di laboratorium komputer di kampus Kentingan, Kampus Mesen, dan Kampus Pabelan.
DUKUNGAN bagi penyandang disabilitas harus terus dikuatkan. Hal itu dapat dilakukan di antaranya melalui peningkatan kompetensi dan penyediaan ruang serta kesempatan di dunia kerja.
Kegiatan tersebut sebagai upaya peningkatan pemahaman dasar kesehatan kepada Penyandang Disabilitas.
FASE darurat kekerasan terhadap penyandang disabilitas memerlukan langkah konkret bersama dan segera untuk mewujudkan perlindungan bagi seluruh warga negara yang diamanatkan UUD 1945.
Pabrik rokok HS yang berlokasi di Muntilan, Magelang, berkomitmen merangkul penyandang disabilitas sebagai tenaga kerja produktif tanpa persyaratan yang memberatkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved