Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 15.789 peserta termasuk 13 diantaranya penyandang disabilitas mengikuti UTBK SNBT (Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) di Kampus Universitas Gadjah Mada. Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan ujian yang berbasis komputer pada 21-27 April ini, panitia menyiapkan infrastruktur teknologi informasi (TI) secara menyeluruh mencakup memastikan kesiapan jaringan internet, perangkat komputer, sistem server, hingga mekanisme pengawasan selama ujian berlangsung untuk mencegah terjadinya tindak kecurangan.
Selama pelaksanaan ujian menuntut stabilitas sistem dan konektivitas tinggi di seluruh lokasi ujian yang tersebar di 14 titik di berbagai fakultas dan unit yang ada di UGM. Bahkan berbagai langkah antisipatif akan dilakukan untuk meminimalkan potensi gangguan teknis sehingga seluruh peserta dapat mengikuti ujian dengan lancar dan nyaman. Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, dilibatkan untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta secara lebih spesifik. Pendekatan ini dilakukan agar setiap bentuk fasilitasi yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing peserta.
Kepala ULD UGM, Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D menjelaskan bahwa pihaknya melakukan asesmen kebutuhan peserta sejak awal melalui formulir khusus. Formulir tersebut memuat data pribadi, jenis disabilitas, serta kebutuhan yang diperlukan selama pelaksanaan UTBK. Selain itu, peserta juga diminta melampirkan surat keterangan disabilitas dari tenaga medis sebagai bagian dari verifikasi. Proses ini membantu ULD dalam merancang bentuk dukungan yang tepat bagi setiap peserta.
“Kami ingin memastikan setiap peserta mendapatkan fasilitasi yang sesuai dengan kebutuhannya, bukan disamaratakan,” ujar Wuri, Selasa (21/4).
Ia menjelaskan bahwa dari total 16 peserta disabilitas, sebanyak 13 peserta mengisi formulir asesmen kebutuhan yang terdiri dari 12 peserta tuli dan 1 peserta dengan disabilitas fisik. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk layanan yang diberikan kepada peserta selama pelaksanaan UTBK. Dalam pelaksanaan tahun ini, UGM difokuskan untuk memfasilitasi peserta dengan disabilitas tuli dan fisik. Sementara itu, peserta dengan disabilitas netra difasilitasi secara terpusat di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sesuai pengaturan panitia pusat. “Melalui asesmen ini kami bisa memahami kebutuhan masing-masing peserta secara lebih tepat sekaligus menyesuaikan bentuk layanan yang diberikan,” jelasnya.
Untuk peserta tuli, UGM memberikan perhatian pada kebutuhan komunikasi selama pelaksanaan ujian. Peserta pada umumnya dapat mengerjakan soal secara mandiri tanpa bantuan khusus. Namun, mereka memerlukan penerjemah bahasa isyarat untuk memahami instruksi yang disampaikan oleh panitia. Dalam praktiknya, tidak semua peserta menggunakan bahasa isyarat sehingga pendekatan komunikasi perlu disesuaikan. “Ada peserta yang menggunakan bahasa isyarat, ada juga yang membaca gerak bibir, sehingga pendekatannya perlu fleksibel,” tutur Wuri.
ULD UGM juga menekankan pentingnya penggunaan alat bantu dengar bagi peserta tuli selama ujian berlangsung. Alat bantu tersebut merupakan bagian dari kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari pengguna. Oleh karena itu, penggunaannya tidak dapat dilarang dalam pelaksanaan ujian. Di sisi lain, terdapat potensi risiko penyalahgunaan yang perlu diantisipasi melalui pengawasan. “Meminta peserta melepas alat bantu dengar sama dengan melanggar hak dasar mereka sebagai penyandang disabilitas,” tegas Wuri.
Sebagai langkah mitigasi, ULD sebenarnya merekomendasikan penyediaan ruang khusus bagi peserta tuli. Ruang terpisah dinilai dapat membantu pengawasan sekaligus memudahkan penyampaian instruksi. Namun, skema ini belum sepenuhnya dapat diterapkan karena pengaturan ruang mengikuti ketentuan panitia pusat. Akibatnya, pengawasan terhadap peserta tuli dilakukan secara lebih intensif di ruang ujian reguler. “Idealnya mereka berada dalam satu ruang agar lebih mudah dipantau tanpa mengurangi kenyamanan,” ujarnya.
ULD, ujarnya juga menyiapkan dukungan pendampingan dalam bentuk penerjemah selama ujian berlangsung. Pendamping hadir untuk membantu menyampaikan instruksi yang berkaitan dengan pelaksanaan ujian. Peran ini menjadi penting agar peserta tidak mengalami kesulitan dalam memahami arahan dari pengawas. Pendamping tidak terlibat dalam proses pengerjaan soal sehingga kemandirian peserta tetap terjaga. “Pendamping hanya membantu pada aspek komunikasi, bukan pada substansi ujian,” jelas Wuri.
Meskipun pelaksanaan UTBK bagi peserta netra dipusatkan di UNY, ULD UGM tetap menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk mendukung pelaksanaan ujian yang inklusif. Salah satunya adalah penggunaan komputer yang dilengkapi pembaca layar atau screen reader serta headphone. Selain itu, diperlukan ruang terpisah agar peserta dapat fokus tanpa terganggu suara dari peserta lain. Penyesuaian ini penting untuk memastikan peserta netra dapat mengakses soal secara optimal. “Perangkat dan lingkungan yang sesuai akan sangat menentukan kemandirian peserta netra dalam mengerjakan soal,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wuri juga menyoroti pentingnya penyesuaian bentuk soal bagi peserta netra. Soal yang berbasis gambar atau diagram perlu dinarasikan agar dapat diakses melalui screen reader. Tanpa penyesuaian tersebut, peserta akan kesulitan memahami isi soal. Selain itu, peserta netra memerlukan tambahan waktu pengerjaan minimal 30 persen dari waktu normal. “Mereka membutuhkan waktu lebih karena tidak bisa membaca secara cepat seperti peserta lain,” ucapnya.
Dalam kondisi tertentu, peserta netra juga memerlukan pendamping untuk membantu proses pengerjaan ujian. Pendamping ini disiapkan oleh ULD UGM dan telah melalui proses seleksi. Idealnya, satu peserta didampingi oleh satu pendamping agar kebutuhan dapat terpenuhi secara optimal. Hal ini menjadi bagian dari praktik baik yang telah dilakukan pada pelaksanaan sebelumnya. “Pendampingan dilakukan agar peserta tetap mandiri, tetapi tidak kesulitan dalam memahami materi ujian,” jelas Wuri.
Pelaksanaan layanan inklusif ini mengacu pada sejumlah regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Salah satunya adalah Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 tentang akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas. Selain itu, terdapat panduan layanan mahasiswa disabilitas dari Kemenristekdikti tahun 2017. Kedua regulasi tersebut menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan dan praktik layanan di UGM. “Kami memastikan setiap layanan yang diberikan sesuai dengan prinsip akomodasi yang layak,” ungkap Wuri.
Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI) UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, S.T., M.T., IPM, menambahkan UGM menggunakan dua penyedia layanan internet, yakni Telkom dan Indosat, untuk menjaga keandalan koneksi selama ujian. Skema dual ISP ini memungkinkan koneksi tetap tersedia meskipun salah satu jaringan mengalami gangguan. Pengecekan rutin terhadap perangkat jaringan seperti access point dan firewall juga terus dilakukan untuk menjaga keamanan sistem. Infrastruktur ini dirancang agar seluruh titik lokasi ujian memperoleh konektivitas yang stabil. “Kami menyiapkan jalur cadangan sehingga layanan tetap berjalan tanpa mengganggu peserta saat ujian berlangsung,” ujar Ridi.
Konektivitas antar lokasi jelasnya diperkuat melalui jaringan fiber optik dengan jalur ganda yang menghubungkan pusat data dengan seluruh lokasi ujian. Setiap fakultas dan unit telah dilengkapi koneksi berkapasitas besar untuk mendukung lalu lintas data selama ujian. Kecepatan jaringan yang tersedia berkisar antara 1 hingga 10 Gbps. Infrastruktur ini memastikan akses jaringan tetap lancar pada 14 titik lokasi ujian yang digunakan. “Dengan jalur ganda ini, distribusi jaringan bisa tetap stabil meski terjadi gangguan di salah satu sisi,” jelasnya.
Pada pelaksanaan UTBK 2026, total ruang ujian yang digunakan mencapai 44 ruang dengan dukungan 1.452 unit komputer. Jumlah perangkat tersebut meningkat sebanyak 80 unit dibandingkan pelaksanaan UTBK 2025 yang berjumlah 1.372 unit. Ridi meyakinkan seluruh komputer telah disiapkan dari sisi sistem operasi dan perangkat lunak sesuai standar nasional. “Penambahan ini kami lakukan agar kapasitas tetap memadai seiring meningkatnya kebutuhan pelaksanaan tahun ini,” ungkapnya.
Dari sisi sistem, UGM mengoperasikan empat unit server untuk mendukung pelaksanaan ujian. Seluruh server telah melalui tahapan uji beban dan uji coba nasional yang dilaksanakan pada 1 dan 2 April 2026 silam. Sistem monitoring juga disiapkan untuk memantau performa server selama ujian berlangsung. Selain itu, sistem dilengkapi mekanisme failover sehingga layanan tetap berjalan jika terjadi gangguan pada salah satu server. “Kalau ada kendala di satu server, sistem langsung dialihkan ke server lain agar peserta tetap bisa melanjutkan ujian,” tutur Ridi.
Sementara UPN "Veteran" Yogyakarta juga menyelenggarakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. UTBK SNBT UPN "Veteran" Yogyakarta, jelas Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi UPN "Veteran" Yogyakarta, Dr. Dra. Machya Astuti Dewi, diikuti 2.995 peserta. Pelaksanaannya, ujarnya diadakan Kampus 2 UPN "Veteran" Yogyakarta dan akan berlangsung pada Selasa-Senin (21-27 April 2026).
“Fokus kami memastikan seluruh peserta merasa nyaman dan tenang, sehingga bisa mengerjakan UTBK secara optimal tanpa terganggu hal-hal nonteknis," tegasnya. Dr. Machya juga memastikan panitia universitas telah melakukan persiapan secara matang guna mendukung kelancaran proses ujian. Sejak tahap perencanaan, UPN “Veteran” Yogyakarta menempatkan kesiapan teknis dan kenyamanan peserta sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan UTBK-SNBT 2026.
Secara rinci, UTBK di UPN "Veteran" Yogyakarta akan berlangsung selama enam hari pada Selasa-Senin, 21-27 April 2026. Total, terdapat 12 sesi ujian yang terbagi menjadi dua sesi utama setiap harinya. Sesi pertama berlangsung pada pukul 06.45 – 10.30 WIB, sedangkan sesi kedua pada pukul 12.30 – 16.15 WIB. Khusus Jumat, 17 April 2026 ujian sesi kedua akan digelar pada pukul 13.15 – 17.00 WIB. Setiap sesinya akan diikuti oleh 265 peserta. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved