Kualitas Air Sungai Ciliwung Memburuk, Pakar IPB Desak Adopsi Sistem Jepang

Basuki Eka Purnama
28/4/2026 11:43
Kualitas Air Sungai Ciliwung Memburuk, Pakar IPB Desak Adopsi Sistem Jepang
Ilustrasi--Dua bocah bermain air di tepi Sungai Ciliwung, Jakarta.(ANTARA/Aditya Pradana Putra)

KONDISI ekosistem Sungai Ciliwung dilaporkan mengalami penurunan kualitas yang signifikan dibandingkan dua tahun lalu. Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari IPB University, Prof. Etty Riani, mengungkapkan bahwa sungai ikonik Jakarta ini tengah menghadapi tekanan berat akibat aktivitas manusia yang tidak terkendali.

Menurut Prof. Etty, memburuknya kualitas air dipicu oleh ketimpangan antara laju pertumbuhan penduduk dengan ketersediaan infrastruktur sanitasi. Minimnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) membuat limbah rumah tangga mengalir langsung ke badan sungai tanpa proses penyaringan terlebih dahulu.

"Berbagai parameter pencemar seperti BOD, COD, nutrien (N, S, P), hingga gas beracun seperti amonia dan H2S telah melampaui ambang baku mutu. Ditambah lagi tingginya kandungan deterjen serta mikroplastik," ujar Prof. Etty dalam keterangannya.

Ancaman Polutan dan Tata Ruang

Selain beban limbah cair, Ciliwung juga tercekik oleh sampah padat dan pelanggaran tata ruang. Okupasi lahan di bantaran sungai oleh permukiman padat menyebabkan penyempitan aliran (penyempitan palung sungai), yang pada gilirannya meningkatkan risiko bencana.

Berikut adalah ringkasan parameter pencemaran dan faktor penyebab kerusakan Sungai Ciliwung berdasarkan paparan Prof. Etty Riani:

Kategori Detail Temuan / Penyebab
Parameter Kimia BOD, COD, Nutrien (N, S, P), Amonia, dan H2S melebihi baku mutu.
Kontaminan Baru Tingginya residu deterjen dan polusi mikroplastik.
Masalah Struktural Penyempitan aliran akibat permukiman liar dan pelanggaran tata ruang.
Masalah Sosial Budaya buang sampah sembarangan dan lemahnya pengawasan lapangan.

Belajar dari Restorasi Sungai di Jepang

Prof. Etty membandingkan kondisi Ciliwung dengan keberhasilan Jepang dalam merehabilitasi sungai-sungainya hanya dalam kurun waktu satu dekade. Kunci keberhasilan Negeri Sakura terletak pada ketegasan hukum dan komitmen terhadap ruang terbuka.

"Jepang tidak ada kompromi soal bantaran sungai. Alih-alih gedung, mereka membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau sarana olahraga yang berfungsi sebagai penampung luapan air saat debit tinggi," tegasnya. Selain itu, Jepang menerapkan pembangunan IPAL masif dan edukasi budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang mendarah daging di masyarakat.

Rekomendasi Strategis untuk Masa Depan

Untuk menyelamatkan Ciliwung dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, diperlukan langkah radikal dan terpadu. Prof. Etty menekankan beberapa poin krusial:

  • Infrastruktur: Pembangunan IPAL skala besar yang terkoneksi langsung ke setiap rumah tangga.
  • Relokasi & Penataan: Mengembalikan fungsi sempadan sungai sebagai RTH dan merelokasi warga ke hunian layak.
  • Penegakan Hukum: Penerapan denda tegas, sanksi sosial, serta audit lingkungan berkala terhadap industri di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).
  • Kelembagaan: Pembentukan lembaga khusus lintas wilayah (hulu-hilir) di bawah koordinasi pemerintah pusat.

Ia mengingatkan bahwa pembenahan ini tidak bisa instan. Jika kombinasi infrastruktur, hukum, dan perubahan perilaku dilakukan secara konsisten, hasilnya baru akan terlihat dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. "Tanpa itu, Ciliwung hanya akan menjadi warisan yang semakin kotor bagi generasi mendatang," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya