Dominasi Ikan Sapu-Sapu Pertanda Sungai Tercemar, Ini Penjelasan Pakar IPB University

M. Iqbal Al Machmudi, Atalya Puspa
22/4/2026 15:06
Dominasi Ikan Sapu-Sapu Pertanda Sungai Tercemar, Ini Penjelasan Pakar IPB University
Dominasi ikan sapu-sapu di sungai Jakarta.(Antara)

MELIMPAHNYA ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung bukan tanda ekosistem yang sehat. Justru sebaliknya, kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa sungai tersebut sedang mengalami kerusakan serius.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Yusli Wardiatno, menegaskan bahwa dominasi spesies ini mencerminkan perubahan besar pada kualitas lingkungan sungai.

“Saat ini ikan sapu-sapu menjadi spesies yang paling mudah ditemukan di Ciliwung. Ini bukan hal normal, melainkan indikasi bahwa ekosistem sungai telah berubah dan ikan lokal mulai menghilang,” ujarnya.

Dulu, sungai-sungai di Jawa dikenal memiliki keanekaragaman ikan air tawar yang tinggi. Namun kini, kondisi tersebut berbalik. Menurut Yusli, penyebab utamanya adalah pencemaran yang sudah berlangsung lama.

Ciliwung menanggung beban limbah domestik, industri, hingga limpasan perkotaan. Sejumlah penelitian bahkan menemukan kandungan logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri di air serta sedimen sungai.

Dalam kondisi seperti itu, ikan lokal kesulitan bertahan. Sebaliknya, ikan sapu-sapu justru diuntungkan.

Spesies ini mampu hidup di air keruh, kadar oksigen rendah, bahkan lingkungan yang tidak layak bagi ikan lain. Kemampuan adaptasi inilah yang membuatnya mendominasi.

Di tengah kondisi tersebut, muncul gagasan untuk memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai sumber ekonomi, mulai dari bahan pangan hingga produk turunan seperti pakan dan pupuk.

Namun, Yusli mengingatkan bahwa langkah ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Ikan yang hidup di perairan tercemar berpotensi mengakumulasi logam berat dalam tubuhnya. Dalam beberapa kasus, kandungannya bahkan melebihi ambang batas aman untuk dikonsumsi.

“Risiko tetap ada, bahkan jika digunakan untuk nonpangan. Logam berat bisa kembali masuk ke rantai makanan atau terserap tanaman jika pengolahannya tidak benar-benar aman,” jelasnya.

Karena itu, pemanfaatan ikan sapu-sapu harus disertai pengawasan ketat, mulai dari lokasi penangkapan hingga proses pengolahan dan keamanan produk akhir.

Lebih jauh, ia menyoroti akar masalah yang sering diabaikan, pelepasan ikan peliharaan ke alam liar. Kebiasaan ini memicu munculnya spesies invasif yang berkembang tanpa kendali dan merusak keseimbangan ekosistem.

“Penangkapan massal hanya solusi sementara. Kunci utamanya adalah memperbaiki kualitas sungai dan mengubah perilaku masyarakat, terutama menghentikan pelepasan spesies asing ke alam,” tegasnya. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya