Ikan di Sungai Terkontaminasi Opioid dan Antidepresan akibat Limbah Manusia

Thalatie K Yani
22/4/2026 14:00
Ikan di Sungai Terkontaminasi Opioid dan Antidepresan akibat Limbah Manusia
Ilustrasi(Environmental Pollution )

PENELITIAN terbaru di Kanada mengungkapkan temuan mengkhawatirkan pada ekosistem air tawar. Ikan liar yang hidup di hilir instalasi pengolahan air limbah ditemukan mengandung residu obat-obatan terlarang dan farmasi, termasuk opioid dan antidepresan, di dalam jaringan tubuh mereka.

Riset yang dilakukan di daerah aliran sungai Grand River, Ontario selatan ini menunjukkan bahwa sistem pengolahan limbah saat ini belum mampu menyaring seluruh jejak penggunaan obat-obatan manusia secara sempurna.

Zat Berbahaya Masuk ke Jaringan Tubuh

Dr. Diana M. Cárdenas-Soracá, peneliti pascadoktoral dari University of Waterloo, berhasil membuktikan bahan kimia tersebut tidak hanya mencemari air, tetapi telah berpindah ke dalam jaringan hidup ikan. Berdasarkan hasil skrining, zat-zat yang konsisten ditemukan meliputi fentanyl, methadone, venlafaxine, serta produk sampingan dari venlafaxine.

Penelitian ini menggunakan ikan darter sebagai subjek karena spesies ini cenderung menetap di satu wilayah kecil, sehingga menjadikannya "spesies sentinel" atau indikator yang akurat untuk mendeteksi perubahan lingkungan lokal.

Molekul Obat Lolos dari Pengolahan Limbah

Sebagian besar sistem pengolahan air limbah dirancang untuk menyaring limbah manusia, nutrisi, dan kuman. Namun, molekul obat yang kecil sering kali tetap terlarut dan dilepaskan ke sungai setiap hari.

"Penelitian ini menunjukkan pentingnya mengembangkan metode analitis yang sensitif untuk memantau kontaminan baru dan meningkatkan kemampuan kita dalam menilai dampak potensial pada ekosistem perairan," ujar Cárdenas-Soracá.

Perbedaan Dampak pada Spesies dan Jenis Kelamin

Data yang dikumpulkan pada Mei 2024 menunjukkan adanya pola akumulasi kimia yang berbeda. Ikan jantan ditemukan membawa konsentrasi obat yang lebih tinggi dibandingkan betina. Peneliti menduga hal ini terjadi karena ikan betina baru saja melepaskan telur yang kaya lemak, yang kemungkinan besar ikut membawa keluar bahan kimia yang sebelumnya tersimpan di jaringan lemak tubuh mereka.

Selain itu, spesies fantail darter tercatat memiliki tingkat fentanyl dan venlafaxine tertinggi di antara spesies lainnya. Perbedaan cara hidup dan habitat di dasar sungai diduga memengaruhi seberapa besar paparan kimia yang diterima setiap ikan.

Peringatan bagi Ekosistem

Meskipun studi ini belum menguji secara langsung apakah obat-obatan tersebut membuat ikan sakit atau mengubah perilaku reproduksi mereka, para ilmuwan memberikan peringatan keras. Senyawa neuroaktif seperti antidepresan dalam penelitian lain telah dikaitkan dengan perubahan cara makan, pergerakan, dan respons stres pada ikan.

Temuan yang telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution ini diharapkan mendorong otoritas terkait untuk meningkatkan pemantauan terhadap kontaminan baru yang masuk ke lingkungan demi menjaga kesehatan ekosistem air tawar. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya