Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EPILEPSI merupakan salah satu gangguan neurologi yang dapat memengaruhi kualitas hidup anak-anak secara signifikan. Epilepsi pada anak bisa menyebabkan gejala berupa kejang yang membuat para orang tua merasa khawatir. Namun, orang tua perlu tetap tenang agar bisa menghadapinya dengan cara yang tepat.
Baca juga : Sistem Imunitas yang Baik Buat Otak Anak Berkembang Optimal
Dikutip dari laman resmi Siloam Hospitals, berikut penyebab, gejala, hingga pengobatan epilepsi pada anak.
1. Pengertian epilepsi
Epilepsi pada anak adalah suatu kondisi ketika sel-sel di otak anak menciptakan aktivitas listrik yang tidak teratur secara tiba-tiba. Hal ini mengakibatkan anak mengalami kejang. Epilepsi adalah serangan kejang paroksismal (tiba-tiba) berulang tanpa provokasi dengan interval lebih dari 24 jam tanpa penyebab yang jelas.
Baca juga : Kenalkan Edukasi Kelistrikan pada Anak sejak Dini
Berdasarkan tipe bangkitan kejang, epilepsi dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Pertama, kejang umum, yaitu kejang tonik, klonik, tonik-klonlik, atonik, absans, mioklonik. Kedua, kejang fokal, yaitu fokal sederhana, fokal kompleks, kejang fokal menjadi umum. Ketiga, kejang yang belum dapat diklasifikasi.
2. Penyebab Epilepsi pada Anak
Epilepsi pada anak terjadi ketika aktivitas listrik di otak anak tidak terkontrol. Sebagai informasi, aktivitas listrik mengalir di antara sel-sel otak dan membantu sel-sel untuk berkomunikasi. Namun, terkadang, listrik di antara sel-sel dapat menjadi tidak teratur. Ketidakteraturan tersebut menyebabkan gejala kejang untuk sementara hingga otak kembali mampu mengirimkan pesan yang benar ke sel-sel lain di otaknya.
Baca juga : Ini Panduan Optimalisasi Perkembangan Otak Anak
Adapun beberapa kondisi yang diketahui dapat menyebabkan epilepsi pada anak adalah komplikasi akibat persalinan (cedera lahir), trauma kepala atau cedera otak, infeksi, seperti meningitis atau ensefalitis, kelainan genetik, memiliki riwayat orang tua atau keluarga dengan epilepsi, kelainan pada pembentukan struktur otak sebelum lahir, kelahiran prematur, dan kelainan metabolik bawaan.
Patut diketahui, terkadang penyebab epilepsi pada seorang anak tidak diketahui secara pasti dan kondisi ini terjadi secara sporadis atau acak. International League Against Epilepsy (ILAE) pada tahun 1989 membagi epilepsi menjadi 3 berdasarkan etiologi atau penyebabnya, yaitu Epilepsi atau sindrom epilepsi idiopatik, yaitu epilepsi tanpa adanya kelainan struktur otak dan tidak ditemukan defisit neurologi. Faktor genetik diduga berperan pada tipe ini dan biasanya khas mengenai usia tertentu.
Lalu, epilepsi atau sindrom epilepsi simptomatik, yaitu epilepsi yang disebabkan satu atau lebih kelainan anatomi dan ditemukan defisit neurologi. Kemudian, epilepsi atau sindrom epilepsi kriptogenik, yaitu epilepsi atau sindrom epilepsi yang diasumsikan simtomatik tetapi etiologi masih belum diketahui. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan (pemeriksaan pencitraan, genetik, metabolik), klasifikasi kriptogenik banyak yang dapat digolongkan sebagai epilepsi simtomatik.
Baca juga : Selalu Berulang, Ini Ciri Pembeda Kejang Epilepsi dengan Bukan Epilepsi
3. Gejala Epilepsi pada Anak
Gejala epilepsi pada anak biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit. Gejala ini bisa berupa kehilangan kesadaran atau pingsan, gerakan otot yang tidak terkendali, tidak bisa berbicara, serta detak jantung dan napas cepat. Kejang mungkin terlihat berbeda pada setiap anak dan tidak selalu melibatkan gerakan otot yang tidak terkendali. Namun, setiap orang biasanya memiliki gejala kejang yang sama setiap episodenya kembali.
Setelah kejang, anak biasanya merasa lelah atau bingung tentang apa yang baru saja terjadi. Mereka mungkin juga tidak memiliki ingatan tentang kejang yang terjadi sampai berhenti. Beberapa anak mungkin mengalami sakit kepala setelah kejang
Penanganan awal ketika terjadi epilepsi pada anak adalah
Setelah kejang berakhir, anak mungkin ketakutan dan bingung dengan kondisi yang dialami. Orang tua bisa mendampingi dan menenangkan si kecil hingga ia merasa lebih baik dan stabil. Terakhir, catat durasi dan tipe kejang yang dialami anak
Adapun, untuk pengobatan epilepsi pada anak bertujuan untuk mengontrol, menghentikan, atau mengurangi frekuensi kejang. Dalam hal ini, dokter biasanya memberikan obat anti kejang untuk mengobati gejala epilepsi dan frekuensi kejang, namun bukan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Obat anti kejang dapat membantu mencegah ketidakteraturan aktivitas listrik di otak.
Pastikan si Kecil meminum obat secara teratur. Penghentian obat tiba-tiba akan mengakibatkan timbulnya kejang atau status epileptikus. Selain itu, penting untuk mengetahui dan mengenali pencetus kejang pada anak anda sehingga serangan kejang bisa dihindari. Pencetus yang sering dialami adalah lupa minum obat, kurang tidur, terlambat atau lupa makan, sakit atau demam, dan lain-lain. (M-4)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Prestasi ini mencerminkan pengakuan pada kapabilitas perusahaan dalam menghadirkan inovasi yang berfokus pada keselamatan (safety) dan keandalan (reliability) sistem kelistrikan.
BBM masih menyumbang sekitar 30% dalam bauran energi nasional, sehingga sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga dunia.
Begitu juga yang lainnya, seperti konversi sepeda motor, baik menuju bahan bakar gas, khususnya CNG atau pun listrik.
Fokus utama pemerintah adalah mengubah tumpukan sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan menjadi sumber energi alternatif, khususnya listrik.
PLN telah menyediakan 4.769 unit stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang tersebar di 3.078 titik di seluruh Indonesia.
Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, PLN memastikan kesiapan pasokan listrik di berbagai objek vital.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved