Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA Jels berpikir ponsel pintar (smartphone) anak praremaja Anda membahayakan kesehatan mereka, Anda mungkin benar.
Sebuah studi baru yang melibatkan lebih dari 10.000 remaja di Amerika Serikat menemukan bahwa anak yang memiliki ponsel pintar sebelum usia 12 tahun berisiko lebih tinggi mengalami depresi, obesitas, dan kurang tidur dibandingkan dengan teman sebayanya yang tidak memilikinya.
Studi itu juga menemukan anak yang memiliki ponsel pintar antara usia 12 dan 13 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit mental dan kurang tidur pada usia 13 tahun dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki perangkat tersebut.
Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan kaitan dengan dampak negatif pada kesehatan mental remaja dan mengidentifikasi bahaya kesehatan akibat penggunaan layar, tetapi studi baru ini tidak meneliti fitur spesifik penggunaan ponsel pintar mana yang terkait dengan kesehatan yang lebih buruk.
"Temuan kami menunjukkan bahwa kita harus memandang ponsel pintar sebagai faktor penting dalam kesehatan remaja, mengambil keputusan untuk memberikan ponsel kepada anak dengan hati-hati dan mempertimbangkan potensi dampaknya terhadap kehidupan dan kesehatan mereka," ujar Dr. Ran Barzilay, seorang psikiater anak di Rumah Sakit Anak Philadelphia, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Independent, Senin (1/12).
Kepemilikan Ponsel
Barzilay dan peneliti lain dari U.C. Berkeley, California, dan Universitas Columbia, New York City, meninjau data yang dikumpulkan antara 2018 dan 2020 dari studi Adolescent Brain Cognitive Development, sebuah studi jangka panjang terbesar tentang perkembangan otak anak-anak di AS sejauh ini.
Mereka mengamati kepemilikan ponsel pintar, usia pertama anak mendapatkan ponsel, perangkat lain apa yang mereka miliki, kapan anak-anak mencapai pubertas, bagaimana orangtua memantau penggunaan, serta variabel sosial ekonomi dan demografi.
Dari 10.588 responden, sebanyak 6.739 memiliki ponsel pintar. Sekarang, jumlah anak dan remaja yang memiliki perangkat seluler sendiri jauh lebih banyak dibandingkan satu dekade lalu, termasuk 51% anak berusia delapan tahun ke bawah, menurut data yang dirilis awal tahun ini dari Common Sense Media. Angka tersebut masih hanya 45% pada 2017.
Lebih dari 60% orangtua anak berusia antara 11 dan 12 tahun mengatakan anak mereka memiliki telepon pintar, menurut survei Pew Research Center pada Oktober.
Keseimbangan yang Sehat
Namun, peniliti menyarankan para orangtua sebaiknya tidak langsung menyita ponsel anak mereka, dan mengingat ponsel pintar telah terbukti membantu anak-anak bersosialisasi dan merupakan alat penting dalam keadaan darurat.
"Kami tidak mengeklaim ponsel pintar merugikan kesehatan semua remaja; melainkan, kami menganjurkan pertimbangan yang matang tentang implikasi kesehatannya, dengan menyeimbangkan konsekuensi positif dan negatifnya," tambah Barzilay.
Barzilay dan para peneliti mengeluarkan rekomendasi baru bagi keluarga yang anak-anaknya memiliki ponsel pintar. Rekomendasi tersebut meliputi menetapkan ketentuan penggunaan yang jelas sebelum memberikan ponsel kepada anak, menetapkan panduan penggunaan ponsel di kamar tidur, saat makan malam, dan saat mengerjakan PR, serta menyesuaikan pengaturan privasi dan konten.
"Kemungkinan besar, semua remaja pada akhirnya akan memiliki ponsel pintar. Ketika hal itu terjadi, disarankan untuk memantau apa yang dilakukan anak-anak kita di ponsel mereka, memastikan mereka tidak terpapar konten yang tidak pantas dan ponsel pintar tidak mengganggu tidur," kata Barzilay.
Ke depannya, para peneliti berencana untuk menyelidiki aspek-aspek spesifik dari penggunaan ponsel pintar, seperti jenis aplikasi dan pola penggunaan yang berdampak negatif pada kesehatan. Mereka berharap dapat mempelajari anak yang memiliki ponsel pintar sebelum usia 10 tahun.
Barzilay juga menekankan pentingnya kaum muda untuk meminimalkan interaksi dengan ponsel dan lebih sering melakukan aktivitas fisik, yang dapat melindungi mereka dari obesitas dan meningkatkan kesehatan mental seiring waktu. (B-3)
Huawei Mate XT 2 dikabarkan meluncur Oktober 2026 dengan baterai 6.000mAh, chip Kirin 9050 Pro, dan teknologi engsel terbaru yang lebih tahan lama.
Realme C100 siap meluncur dengan baterai 8000 mAh dan Titan Battery Safety System. Simak spesifikasi daya tahan dan jadwal rilisnya di sini.
Mengulas 7 ponsel dengan teknologi canggih namun gagal total di pasaran, mulai dari Samsung Galaxy Note 7 hingga Amazon Fire Phone.
Surat edaran tersebut telah diterima seluruh sekolah dan langsung berlaku sejak diterbitkan.
Sony Xperia 1 VIII dikabarkan membawa perubahan desain radikal dengan modul kamera persegi dan sensor 48MP. Simak bocoran lengkapnya di sini.
Jangan terjebak angka RAM besar! Simak faktor kunci performa smartphone Rp2 jutaan, mulai dari chipset Helio G99 hingga teknologi storage UFS 2.2.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Psikiater dr. Elvine Gunawan memperingatkan bahaya PMDD saat menstruasi, terutama jika muncul keinginan menyakiti diri. Simak gejalanya di sini.
Peran teman sangat penting untuk menerima cerita dan teman curhat itu perlu memberikan saran yang tepat.
Jerawat tak hanya masalah kulit. Pada remaja, kondisi ini bisa memicu kecemasan hingga depresi. Simak penjelasan dokter tentang dampak emosional dan cara mengatasinya.
LELAH mental atau mental fatigue adalah kondisi ketika seseorang merasa terkuras secara emosional dan pikiran akibat tekanan yang datang bertubi-tubi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved