Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BUNDA, pernah meninggalkan anak untuk pergi ke kamar mandi namun berbuntut tangisan? Memang wajar bagi anak-anak terutama balita cenderung menangis atau merengek ketika ditinggal oleh orangtua. Namun, patut diwaspadai juga jika respons anak terasa berlebih, apakah gejala separation anxiety disorder (SAD)? Sebagai orangtua, sangat penting paham gejalanya agar dapat membantu anak melewati kondisi tersebut.
Separation anxiety disorder (SAD) ialah gangguan kecemasan pada anak-anak ketika berpisah atau ditinggal orangtua, meski hanya sebentar. Kondisi ini terutama terjadi saat masih bayi atau di bawah usia 5 tahun.
Dalam kondisi normal, ketika memasuki usia 3 tahun, sebagian besar anak biasanya sudah terbiasa berpisah dengan orangtua dan dapat menyesuaikan diri seiring berjalannya waktu.
Baca juga : Amankan Membiarkan Anak Bermain Sepeda Listrik?
Melansir dari situs resmi Rumah Sakit Siloam Hospitals, Psikiater dr. Rayinda Raumanen Mamahit, SpKJ menjelaskan beberapa gejala separation anxiety disorder sebagai berikut;
1. Menangis hingga meraung-raung meskipun hanya berpisah sebentar dengan orangtua.
2. Merasa ketakutan dan khawatir berlebihan ketika salah satu atau kedua orangtua sedang pergi ke luar rumah.
Baca juga : Sepeda Listrik Dipertanyakan Keamanannya, Ini yang Perlu Diketahui Orangtua
3. Mengalami tantrum dan marah setiap kali akan ditinggal orangtua, misalnya untuk bekerja.
4. Tidak mau ditinggal sendiri saat sekolah dan harus ditemani terus oleh orangtua.
5. Selalu berusaha mengirim pesan atau menelepon ketika orangtua pergi.
Baca juga : Ini Tips Memilih Daycare dari Psikolog
6. Tidur tidak nyenyak dan sering mengalami mimpi buruk terkait terjadinya hal buruk kepada keluarga.
7. Muncul gejala fisik seperti pusing, sakit kepala, hingga sakit perut.
8. Enggan bermain dengan teman-temannya karena mau selalu di rumah bersama orangtua.(M-3)
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Psikolog Sani Budiantini menekankan pentingnya kesiapan mental orangtua dalam menghadapi reaksi anak saat implementasi PP Tunas dan pembatasan gawai.
Roblox memperkenalkan Roblox Kids dan Roblox Select di Indonesia untuk melindungi pengguna di bawah 16 tahun dengan kontrol orang tua yang lebih ketat.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Pengumuman SNBP 2026 memicu refleksi mendalam bagi orang tua. Fokus kini bergeser dari sekadar nama besar kampus ke relevansi kurikulum dan kesiapan kerja.
Fenomena GERD ternyata berkaitan erat dengan gangguan kecemasan. Simak fakta medis terbaru, penyebab sebenarnya, dan cara memutus siklusnya.
Peneliti Johns Hopkins mengungkap rahasia protein GluD yang selama ini dianggap pasif. Penemuan ini membuka jalan baru untuk pengobatan kecemasan hingga ataksia.
Penelitian UC Davis menemukan kadar kolin otak 8% lebih rendah pada penderita gangguan kecemasan. Temuan ini membuka kemungkinan pendekatan nutrisi untuk membantu keseimbangan kimia otak.
Peneliti menemukan obat berbasis LSD bernama MM120 mampu meredakan gejala gangguan kecemasan umum secara signifikan dibanding terapi konvensional.
Data Survei Kesehatan Nasional (SKI) tahun 2023 menunjukkan sekitar 2% penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami masalah kesehatan mental.
Penelitian University of Georgia ungkap pola asuh ayah dan ibu memengaruhi kecemasan sosial remaja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved