Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Prof Rini Sekartini mengatakan imunisasi polio dapat diberikan kepada anak berkebutuhan khusus dengan gejala gangguan perilaku, seperti autisme.
"Anak berkebutuhan khusus ada juga terkait gangguan perilaku, misalnya anak autisme, ADHD, apakah aman diberikan polio tetes? Itu aman, silakan ya, bisa dia karena sehat secara fisik enggak ada masalah," kata Rini, dikutip Kamis (25/7).
Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu mengatakan anak berkebutuhan khusus harus terpenuhi kebutuhan dasarnya, termasuk imunisasi.
Baca juga : PIN Polio, Anak dengan Autisme Bisa Ikut Serta
Hal itu disampaikan kepada masyarakat agar jangan sampai orangtua tidak memberikan imunisasi lengkap kepada anak berkebutuhan khusus terkait gangguan perilaku.
Adapun yang tidak dapat diberikan imunisasi polio adalah anak berkebutuhan khusus dengan gangguan medis seperti ginjal, kelainan darah, dan lain-lain.
"Kecuali dia ada penyakit medis lainnya yang memang kontraindikasi tentunya," kata Rini.
Baca juga : Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Harus Jadi Prioritas
Orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai imunisasi yang efektif mencegah penyakit yang mengakibatkan kelumpuhan permanen itu.
Cakupan imunisasi pada anak sempat menurun drastis pada 2021 sebagai imbas dari pandemi covid-19. Untuk itu, Kementerian Kesehatan bersama IDAI menggelar Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio tahap kedua di 27 provinsi.
PIN polio tahap kedua itu dilaksanakan karena Indonesia masih dalam kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit polio.
Baca juga : IDAI Sebut KLB Polio di Jawa Bakal Jadi Bom Waktu
KLB polio terjadi di Papua sejak 2022. Pelaksanaan imunisasi polio ditargetkan bisa mencapai minimal 95% untuk mencapai kekebalan kelompok. Artinya, 5% sisanya merupakan anak yang ditunda pemberiannya.
"Cakupan imunisasi yang tinggi dapat mengendalikan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, tetapi jika cakupannya menurun di bawah 60%, Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat muncul kembali," ujar Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso.
Imunisasi akan dilangsungkan selama sepekan ke depan untuk anak usia 0 hingga 7 tahun di posyandu, puskesmas, dan lokasi lain yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan. (Ant/Z-1)
IMUNISASI disebut sebagai langkah paling efektif dalam mencegah dan menekan penyebaran campak, terutama pada anak usia balita.
Pembukaan simposium ilmiah yang menjadi bagian dari forum IVAXON 2026 di Jakarta.
Pendekatan life-course immunization menjadi fokus utama di IVAXCON 2026 untuk memperkuat perlindungan kesehatan dari bayi hingga lansia dan melawan misinformasi.
Dante juga menjelaskan anak yang telah diimunisasi akan mencegah terjadi penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak perlu terjadi.
IDAI menekankan pentingnya imunisasi masif untuk mengatasi lonjakan kasus campak dan polio di Indonesia sebagai penyakit yang muncul kembali.
Sebanyak 281 ribu anak di Aceh masuk kategori zero dose atau belum pernah imunisasi. Simak penyebab, dampak, dan upaya Dinkes Aceh mengatasinya.
Kemenkes tetapkan vaksin meningitis dan polio sebagai syarat wajib haji 2026. Simak aturan waktu pemberian dan tips kesehatan dari ahli di sini.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Kualitas surveilans AFP semakin baik melalui deteksi kasus lebih sensitif dan peningkatan kualitas spesimen.
Indonesia telah resmi mengakhiri wabah virus polio tipe 2, yang muncul akibat rendahnya cakupan imunisasi polio selama bertahun-tahun.
Turunnya angka imunisasi selama pandemi menyebabkan kembali munculnya kasus polio di beberapa daerah Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved