Narasi Kontradiktif Teheran di Tengah Isu Lanjut Perang atau Damai

Khoerun Nadif Rahmat
24/4/2026 16:45
Narasi Kontradiktif Teheran di Tengah Isu Lanjut Perang atau Damai
Rudal Iran.(Anadolu)

KLAIM televisi pemerintah Iran bahwa 87% warga mendukung kelanjutan perang dengan Amerika Serikat memicu polemik karena dinilai tidak transparan dan bertolak belakang dengan dinamika opini publik sebelumnya.

Stasiun penyiaran negara Iran menuai sorotan setelah menyebut mayoritas masyarakat mendukung kelanjutan konflik dengan Amerika Serikat. Angka 87% yang diklaim berasal dari jajak pendapat itu justru memicu ejekan dan pertanyaan mengenai validitasnya.

Kontroversi mencuat setelah siaran televisi pemerintah pada Senin (20/4) waktu setempat, menghadirkan jurnalis urusan internasional sekaligus analis politik Iran, Mostafa Khoshcheshm. Ia menyatakan dukungan publik terhadap konfrontasi militer lebih besar dibandingkan upaya diplomasi.

"Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh pusat-pusat akademik terkait perang, 87 persen masyarakat mengatakan bahwa sekali dan untuk selamanya, gigi yang busuk ini harus dicabut," ujar Mostafa dikutip dari Iran International.

Ia juga menilai pembukaan kembali Selat Hormuz berisiko bagi Iran. Menurutnya, langkah itu dapat membuat Iran kehilangan kemampuan untuk menutup jalur tersebut di masa depan jika diperlukan.

Namun, tidak ada penjelasan rinci mengenai survei tersebut, termasuk metodologi, ukuran sampel, maupun lembaga yang mensponsori. Kondisi itu membuat klaim tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Sorotan terhadap angka tersebut tidak hanya terkait kredibilitasnya, tetapi juga karena dinilai mencerminkan perubahan narasi di dalam negeri. Pada awal konflik, kelompok garis keras dan pihak yang sejalan dengan pemerintah kerap menyerang diaspora Iran serta pihak yang dianggap mendukung tekanan militer terhadap Republik Islam.

Mereka yang dinilai mendukung intervensi asing sebelumnya disebut sebagai pengkhianat atau kolaborator dalam berbagai forum publik dan media.

Kini, kelompok domestik yang sama justru tampil sebagai pihak yang paling keras menolak negosiasi dengan Amerika Serikat dan mendorong kelanjutan perang.

Di sisi lain, media pemerintah menjadikan kerumunan dalam rapat umum malam hari sebagai bukti dukungan mayoritas. Namun, sejumlah pihak menilai kegiatan tersebut hanya merepresentasikan kelompok tertentu yang terorganisasi.

Dalam beberapa rapat umum, peserta menyebut konflik dengan Amerika Serikat sebagai persoalan "eksistensial" yang harus berlanjut hingga "kemenangan kebaikan atas kejahatan."

Reaksi di ruang digital menunjukkan sikap berbeda. Sejumlah pengguna mempertanyakan klaim tersebut dan menyoroti perbedaan antara narasi pemerintah dan realitas publik.

"Kapan terakhir kali pendapat rakyat Iran, bukan presenter IRIB, menjadi penting dan berpengaruh dalam keputusan besar negara?" tulis seorang pembaca di situs Khabar Online.

Komentar lain bernada serupa menyatakan, "Saya tidak tahu, mungkin 'rakyat' Anda berbeda dengan 'rakyat' kami. Siapa 87 persen ini? 87 persen pendukung pemerintah?, Apakah Anda menganggap kami sebagai bagian dari statistik?"

Skeptisisme juga dikaitkan dengan dugaan aktivitas terorganisasi di dunia maya. Sejumlah pembaca menyinggung perubahan cepat jumlah dukungan pada komentar tertentu.

"Sayangnya, dalam beberapa jam, 'Zombi' dari pasukan siber mengubah skornya," tulis seorang pengguna.

Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, respons publik yang muncul menunjukkan perdebatan mengenai makna patriotisme semakin menguat seiring berlanjutnya konflik. (Ndf/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya