Harga Emas Menguat Dipicu Gencatan Senjata AS-Iran dan Hormuz Memanas

Wisnu Arto Subari
24/4/2026 06:50
Harga Emas Menguat Dipicu Gencatan Senjata AS-Iran dan Hormuz Memanas
Ilustrasi.(Freepik)

HARGA emas kembali mencatatkan penguatan setelah sempat mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Hal itu memberikan ruang diplomatik lebih luas guna mengatur pembicaraan perdamaian baru di tengah ketegangan Timur Tengah.

Di pasar spot, harga emas sempat melonjak hingga 1,1% sebelum sebagian besar kenaikannya terkikis selama jam perdagangan Amerika Serikat. Hingga pukul 16.50 di New York, harga emas spot tercatat naik 0,4% menjadi US$4.738,65 atau sekitar Rp74 juta per ons. Logam mulia lain juga mengikuti tren positif, dengan perak naik 1,3% ke level US$77,71 atau sekitar Rp1,3 juta per ons, sementara platinum dan paladium turut mengalami apresiasi.

Diplomasi tanpa Tenggat Waktu di Selat Hormuz

Meskipun gencatan senjata yang disepakati sejak 7 April diperpanjang tanpa batas waktu, situasi di lapangan tetap tegang. AS dan Iran masih terlibat dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi alat tawar politik kedua belah pihak. Teheran menyatakan belum memiliki rencana segera untuk berpartisipasi dalam negosiasi, tetapi Washington tetap membuka pintu bagi proposal perdamaian baru.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Presiden Trump belum menetapkan tenggat waktu yang pasti untuk menerima proposal dari Iran. Ketidakpastian geopolitik ini secara historis memberikan dukungan bagi emas sebagai aset safe haven.

Ringkasan Pasar Komoditas & Mata Uang:
  • Minyak Mentah: Harga Brent bertahan di atas US$100 (Rp1,7 juta) per barel akibat guncangan pasokan energi.
  • Indeks Dolar: Mengalami koreksi yang mendorong daya tarik emas bagi pemegang mata uang lain.
  • Imbal Hasil Obligasi: Mengalami peningkatan, yang biasanya menjadi hambatan bagi aset tanpa bunga seperti emas.

Analisis Fundamental dan Arus Modal

Memasuki minggu kedelapan konflik di Timur Tengah, risiko inflasi akibat gangguan energi membuat bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Darwei Kung, Kepala Komoditas di DWS Group, menilai posisi pasar emas saat ini jauh lebih bersih karena berkurangnya aktivitas spekulatif dengan leverage tinggi yang sempat mendominasi hingga akhir Februari.

"Pasar sekarang lebih didorong oleh fundamental. Kami menyukai emas saat ini dan telah meningkatkan posisi dalam portofolio, meskipun tetap bersikap taktis terhadap fluktuasi harga," ujar Kung.

Data dari BMO Capital Markets juga menunjukkan ada pemulihan konsisten pada arus masuk ETF (Exchange-Traded Fund) emas selama tiga minggu terakhir. Hal ini memungkinkan harga untuk pulih secara stabil dari aksi jual besar-besaran pada Maret lalu. Namun, para analis memperingatkan bahwa momentum kenaikan mungkin melambat seiring munculnya tanda-tanda aksi ambil untung (profit taking) dari pasar Asia saat harga mendekati level psikologis US$4.850.

Logam Mulia Harga Terakhir (Spot) Perubahan (%)
Emas US$4.738,65 /ons +0,4%
Perak US$77,71 /ons +1,3%

Secara keseluruhan, meskipun dibayangi oleh potensi kenaikan suku bunga bank sentral, emas tetap menjadi pilihan utama investor di tengah risiko geopolitik yang belum mereda di jalur pelayaran energi dunia. (Bloomberg/I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya