Ekonomi Iran kian Hancur Lebur: Inflasi Meroket dan Ekspor Anjlok

Wisnu Arto Subari
24/4/2026 06:05
Ekonomi Iran kian Hancur Lebur: Inflasi Meroket dan Ekspor Anjlok
Ilustrasi.(Freepik)

PERANG yang berkecamuk di Timur Tengah menjerumuskan ekonomi Iran yang sudah rapuh ke dalam jurang kehancuran. Taktik perang Teheran yang menargetkan infrastruktur energi negara tetangga serta pemberlakuan blokade di Selat Hormuz justru menjadi bumerang yang memicu guncangan energi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Kondisi domestik Iran saat ini berada pada titik paling kritis. Sebelum konflik memanas, Iran sudah tercekik sanksi internasional dengan inflasi melebihi 50% pada 2025. Namun, pascaperang 12 hari melawan Amerika Serikat pada Juli lalu, tercatat depresiasi tajam pada nilai tukar rial yang kehilangan 60% hanya dalam hitungan bulan.

Hiperinflasi dan Kelangkaan Pangan

Masyarakat Iran kini menghadapi hantaman inflasi pangan yang tidak terkendali. Data menunjukkan lonjakan hingga 64% pada Oktober tahun lalu yang kemudian meroket menjadi 105% pada Februari 2026. Harga kebutuhan pokok seperti roti dan sereal naik 140%, sementara minyak dan lemak melonjak hingga 219% dalam setahun terakhir.

Data Ekonomi Iran (Estimasi 2026):
  • Pertumbuhan Ekonomi: Kontraksi sebesar 6,1% (Proyeksi IMF).
  • Inflasi Tahunan: 68,9%.
  • Nilai Tukar: 1,32 juta rial per dolar AS.
  • Denominasi Baru: Bank sentral merilis uang kertas 10 juta rial untuk memenuhi kebutuhan tunai.

Blokade Selat Hormuz: Jalur Nadi yang Terputus

Penutupan efektif Selat Hormuz dan blokade balasan dari AS memutus jalur perdagangan internasional Iran. Mengingat lebih dari 90% perdagangan tahunan Iran melewati selat tersebut, ketegangan ini mengancam 70% pendapatan ekspor negara tersebut.

Jason Tuvey, wakil kepala ekonom pasar negara berkembang di Oxford Economics, mencatat bahwa ekspor ke Iran anjlok drastis per Maret 2026. Tekanan semakin berat dengan ancaman sanksi baru dari pemerintahan Trump terhadap bank-bank Tiongkok yang masih memfasilitasi transaksi minyak Iran.

Robin Brooks dari Brookings Institution menilai situasi ini sebagai titik buntu bagi neraca pembayaran Iran. "Ini menutup salah satu jalur kehidupan utama Teheran. Efektivitas blokade ini kemungkinan besar akan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan," ujarnya.

Infrastruktur Hancur dan Ancaman Bencana Kemanusiaan

Serangan udara intensif yang menargetkan kilang minyak dan pembangkit listrik menyebabkan kerugian infrastruktur yang ditaksir mencapai US$200 miliar hingga US$270 miliar. Para pejabat ekonomi senior bahkan memperingatkan Presiden Masoud Pezeshkian bahwa dibutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk membangun kembali ekonomi yang porak-poranda.

Sektor Terdampak Dampak Kerusakan/Krisis
Energi Kilang minyak dan pembangkit listrik hancur total.
Sosial Layanan dasar gagal, ancaman bencana kemanusiaan.
Digital Pemadaman internet meluas, statistik domestik tidak diakses.

Meskipun beberapa analis seperti Amir Handjani dari Atlantic Council berpendapat Iran memiliki ketahanan terhadap sanksi karena pengalaman selama lima dekade, skala kerusakan kali ini dianggap jauh lebih akut. Tanpa kesepakatan damai yang komprehensif dan pencabutan sanksi, prospek masa depan Iran diprediksi hanya akan diwarnai oleh kesulitan ekonomi yang berkepanjangan bagi rakyatnya. (CNBC/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya