Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERANG yang berkecamuk di Timur Tengah menjerumuskan ekonomi Iran yang sudah rapuh ke dalam jurang kehancuran. Taktik perang Teheran yang menargetkan infrastruktur energi negara tetangga serta pemberlakuan blokade di Selat Hormuz justru menjadi bumerang yang memicu guncangan energi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Kondisi domestik Iran saat ini berada pada titik paling kritis. Sebelum konflik memanas, Iran sudah tercekik sanksi internasional dengan inflasi melebihi 50% pada 2025. Namun, pascaperang 12 hari melawan Amerika Serikat pada Juli lalu, tercatat depresiasi tajam pada nilai tukar rial yang kehilangan 60% hanya dalam hitungan bulan.
Masyarakat Iran kini menghadapi hantaman inflasi pangan yang tidak terkendali. Data menunjukkan lonjakan hingga 64% pada Oktober tahun lalu yang kemudian meroket menjadi 105% pada Februari 2026. Harga kebutuhan pokok seperti roti dan sereal naik 140%, sementara minyak dan lemak melonjak hingga 219% dalam setahun terakhir.
Penutupan efektif Selat Hormuz dan blokade balasan dari AS memutus jalur perdagangan internasional Iran. Mengingat lebih dari 90% perdagangan tahunan Iran melewati selat tersebut, ketegangan ini mengancam 70% pendapatan ekspor negara tersebut.
Jason Tuvey, wakil kepala ekonom pasar negara berkembang di Oxford Economics, mencatat bahwa ekspor ke Iran anjlok drastis per Maret 2026. Tekanan semakin berat dengan ancaman sanksi baru dari pemerintahan Trump terhadap bank-bank Tiongkok yang masih memfasilitasi transaksi minyak Iran.
Robin Brooks dari Brookings Institution menilai situasi ini sebagai titik buntu bagi neraca pembayaran Iran. "Ini menutup salah satu jalur kehidupan utama Teheran. Efektivitas blokade ini kemungkinan besar akan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan," ujarnya.
Serangan udara intensif yang menargetkan kilang minyak dan pembangkit listrik menyebabkan kerugian infrastruktur yang ditaksir mencapai US$200 miliar hingga US$270 miliar. Para pejabat ekonomi senior bahkan memperingatkan Presiden Masoud Pezeshkian bahwa dibutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk membangun kembali ekonomi yang porak-poranda.
| Sektor Terdampak | Dampak Kerusakan/Krisis |
|---|---|
| Energi | Kilang minyak dan pembangkit listrik hancur total. |
| Sosial | Layanan dasar gagal, ancaman bencana kemanusiaan. |
| Digital | Pemadaman internet meluas, statistik domestik tidak diakses. |
Meskipun beberapa analis seperti Amir Handjani dari Atlantic Council berpendapat Iran memiliki ketahanan terhadap sanksi karena pengalaman selama lima dekade, skala kerusakan kali ini dianggap jauh lebih akut. Tanpa kesepakatan damai yang komprehensif dan pencabutan sanksi, prospek masa depan Iran diprediksi hanya akan diwarnai oleh kesulitan ekonomi yang berkepanjangan bagi rakyatnya. (CNBC/I-2)
Pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait diserang drone, menghancurkan aset udara Italia. Serangan terjadi di tengah retaliasi Iran pascakematian Ali Khamenei.
AS, Tiongkok, dan Kanada perintahkan evakuasi staf dari Israel dan Iran. Ketegangan memuncak seiring pengerahan kapal induk Gerald R. Ford ke wilayah Haifa.
Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak akhir Desember mencatatkan rekor kelam sebagai kerusuhan paling mematikan dalam sejarah pemerintahan negara tersebut.
PEMERINTAH mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang berencana melakukan perjalanan ke Iran untuk menunda rencana tersebut.
Menlu Sugiono menginstruksikan Duta Besar Republik Indonesia di Teheran untuk segera mempersiapkan langkah-langkah kontingensi jika sewaktu-waktu evakuasi WNI dilakukan.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved