Iran Tutup Selat Hormuz, Negosiasi dengan AS Dinilai Masih Jauh dari Kesepakatan

Khoerun Nadif Rahmat
19/4/2026 17:10
Iran Tutup Selat Hormuz, Negosiasi dengan AS Dinilai Masih Jauh dari Kesepakatan
Selat Hormuz.(Google Maps.)

PENUTUPAN kembali Selat Hormuz oleh Iran menandai eskalasi terbaru ketegangan dengan Amerika Serikat, di tengah negosiasi yang disebut masih jauh dari kesepakatan final. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran menutup kembali Selat Hormuz pada Minggu (19/4).

Langkah tersebut diambil di tengah sinyal dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang menilai kesepakatan damai masih belum mendekati tahap akhir meski pembicaraan terus berlangsung.

Penutupan jalur pelayaran strategis itu disebut sebagai respons Iran atas blokade pelabuhan yang diberlakukan AS. Teheran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur tersebut hingga Washington mencabut kebijakan blokade.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu (18/4) waktu setempat, Ghalibaf mengakui adanya perkembangan dalam pembicaraan dengan AS yang berlangsung di Pakistan. Namun, ia menekankan masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar yang belum terselesaikan. "Kami masih jauh dari diskusi final," ujar Ghalibaf dikutip dari Al Arabiya.

Situasi menjadi semakin krusial karena gencatan senjata selama dua pekan dijadwalkan berakhir pada Rabu mendatang, kecuali ada kesepakatan untuk memperpanjangnya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut komunikasi antara kedua pihak berjalan positif, namun tetap mengingatkan Iran agar tidak melakukan tekanan terhadap Washington.

"Percakapan yang sangat baik" sedang berlangsung, kata Trump, seraya memperingatkan Teheran agar tidak mencoba melakukan "pemerasan" terhadap AS.

Sebelumnya, Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz setelah tercapainya gencatan senjata sementara dengan sekutunya, Hizbullah di Lebanon. Kebijakan itu sempat memicu penurunan harga minyak global sebelum Iran kembali menutup jalur tersebut setelah AS mempertahankan blokade pelabuhan. "Jika Amerika tidak mengangkat blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan dibatasi," tegas Ghalibaf.

Pernyataan keras juga disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Dalam pesan tertulis, ia menyatakan Angkatan Laut Iran "siap sedia" menghadapi Amerika Serikat.

Menanggapi perkembangan itu, Trump menyebut sikap Iran sebagai "sedikit imut". Ia menegaskan posisi AS tetap tidak berubah. "Kami sedang melakukan percakapan yang sangat baik, namun AS tetap mengambil posisi yang tegas," ucap Trump.

Di lapangan, eskalasi terus terjadi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa kapal yang melintas tanpa izin akan dianggap sebagai bagian dari pihak lawan.

"Setiap kapal yang melintas tanpa izin akan dianggap bekerja sama dengan musuh, dan kapal pelanggar akan menjadi sasaran," demikian peringatan IRGC.

Laporan dari lembaga keamanan maritim Inggris dan firma intelijen Vanguard Tech mencatat adanya insiden penembakan terhadap kapal tanker serta ancaman terhadap kapal lain di kawasan Teluk.

Kementerian Luar Negeri India bahkan telah memanggil duta besar Iran untuk menyampaikan protes setelah dua kapal berbendera India dilaporkan terlibat dalam insiden penembakan.

Di darat, ketegangan juga masih berlangsung. Seorang pasukan penjaga perdamaian PBB asal Prancis dilaporkan tewas dalam penyergapan di Lebanon. Sementara itu, militer Israel menyebut dua tentaranya gugur dalam pertempuran di Lebanon selatan sejak dimulainya gencatan senjata 10 hari pada Jumat lalu.

Upaya diplomasi terus dilakukan. Mesir dan Pakistan disebut masih berupaya mendorong tercapainya kesepakatan dalam beberapa hari ke depan. Namun, salah satu hambatan utama tetap terkait isu stok uranium Iran.

Trump mengklaim Teheran bersedia menyerahkan 440 kilogram uranium yang telah diperkaya. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim tersebut.

"Penyerahan stok tersebut ke AS tidak pernah diangkat dalam negosiasi," tegas pihak Iran. (Ndf/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya