Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENUTUPAN kembali Selat Hormuz oleh Iran menandai eskalasi terbaru ketegangan dengan Amerika Serikat, di tengah negosiasi yang disebut masih jauh dari kesepakatan final. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran menutup kembali Selat Hormuz pada Minggu (19/4).
Langkah tersebut diambil di tengah sinyal dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang menilai kesepakatan damai masih belum mendekati tahap akhir meski pembicaraan terus berlangsung.
Penutupan jalur pelayaran strategis itu disebut sebagai respons Iran atas blokade pelabuhan yang diberlakukan AS. Teheran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur tersebut hingga Washington mencabut kebijakan blokade.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu (18/4) waktu setempat, Ghalibaf mengakui adanya perkembangan dalam pembicaraan dengan AS yang berlangsung di Pakistan. Namun, ia menekankan masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar yang belum terselesaikan. "Kami masih jauh dari diskusi final," ujar Ghalibaf dikutip dari Al Arabiya.
Situasi menjadi semakin krusial karena gencatan senjata selama dua pekan dijadwalkan berakhir pada Rabu mendatang, kecuali ada kesepakatan untuk memperpanjangnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut komunikasi antara kedua pihak berjalan positif, namun tetap mengingatkan Iran agar tidak melakukan tekanan terhadap Washington.
"Percakapan yang sangat baik" sedang berlangsung, kata Trump, seraya memperingatkan Teheran agar tidak mencoba melakukan "pemerasan" terhadap AS.
Sebelumnya, Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz setelah tercapainya gencatan senjata sementara dengan sekutunya, Hizbullah di Lebanon. Kebijakan itu sempat memicu penurunan harga minyak global sebelum Iran kembali menutup jalur tersebut setelah AS mempertahankan blokade pelabuhan. "Jika Amerika tidak mengangkat blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan dibatasi," tegas Ghalibaf.
Pernyataan keras juga disampaikan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Dalam pesan tertulis, ia menyatakan Angkatan Laut Iran "siap sedia" menghadapi Amerika Serikat.
Menanggapi perkembangan itu, Trump menyebut sikap Iran sebagai "sedikit imut". Ia menegaskan posisi AS tetap tidak berubah. "Kami sedang melakukan percakapan yang sangat baik, namun AS tetap mengambil posisi yang tegas," ucap Trump.
Di lapangan, eskalasi terus terjadi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa kapal yang melintas tanpa izin akan dianggap sebagai bagian dari pihak lawan.
"Setiap kapal yang melintas tanpa izin akan dianggap bekerja sama dengan musuh, dan kapal pelanggar akan menjadi sasaran," demikian peringatan IRGC.
Laporan dari lembaga keamanan maritim Inggris dan firma intelijen Vanguard Tech mencatat adanya insiden penembakan terhadap kapal tanker serta ancaman terhadap kapal lain di kawasan Teluk.
Kementerian Luar Negeri India bahkan telah memanggil duta besar Iran untuk menyampaikan protes setelah dua kapal berbendera India dilaporkan terlibat dalam insiden penembakan.
Di darat, ketegangan juga masih berlangsung. Seorang pasukan penjaga perdamaian PBB asal Prancis dilaporkan tewas dalam penyergapan di Lebanon. Sementara itu, militer Israel menyebut dua tentaranya gugur dalam pertempuran di Lebanon selatan sejak dimulainya gencatan senjata 10 hari pada Jumat lalu.
Upaya diplomasi terus dilakukan. Mesir dan Pakistan disebut masih berupaya mendorong tercapainya kesepakatan dalam beberapa hari ke depan. Namun, salah satu hambatan utama tetap terkait isu stok uranium Iran.
Trump mengklaim Teheran bersedia menyerahkan 440 kilogram uranium yang telah diperkaya. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah klaim tersebut.
"Penyerahan stok tersebut ke AS tidak pernah diangkat dalam negosiasi," tegas pihak Iran. (Ndf/P-3)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved