Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Logistik Global Terancam di Tengah Ketegangan dengan AS

Khoerun Nadif Rahmat
19/4/2026 16:49
Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Logistik Global Terancam di Tengah Ketegangan dengan AS
Selat Hormuz.(Google Maps.)

IRAN kembali menutup Selat Hormuz pada Minggu (19/4), memperparah ketegangan dengan Amerika Serikat dan mengancam jalur perdagangan global di tengah negosiasi yang masih buntu.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran memutuskan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, pada Minggu (19/4).

Keputusan tersebut muncul saat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa kesepakatan damai final masih belum tercapai meskipun terdapat sedikit kemajuan dalam proses negosiasi.

Dikutip dari AFP, Ghalibaf menegaskan masih banyak perbedaan mendasar yang belum menemukan titik temu antara kedua pihak. "Kami masih jauh dari diskusi akhir," ujar Ghalibaf.

Teheran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut hingga AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Gencatan senjata selama dua pekan dijadwalkan berakhir pada Rabu mendatang apabila tidak ada kesepakatan untuk memperpanjangnya. Presiden AS Donald Trump menyebut komunikasi dengan Iran berjalan positif, namun memperingatkan Teheran agar tidak mencoba menekan Washington.

Ia juga menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan final. "Jika Amerika tidak mencabut blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan dibatasi," tegas Ghalibaf.

Situasi di lapangan kian memanas setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintasi selat tanpa izin akan dianggap bekerja sama dengan musuh. Mereka menyatakan kapal yang melanggar akan menjadi target.

Laporan dari agensi keamanan maritim Inggris menyebutkan adanya insiden penembakan oleh Garda Revolusi terhadap sebuah kapal tanker di kawasan tersebut. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri India telah memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan protes terkait insiden yang melibatkan dua kapal berbendera India.

Upaya diplomasi terus dilakukan. Mesir dan Pakistan terlibat dalam mediasi guna mendorong tercapainya kesepakatan dalam beberapa hari ke depan.

Namun, isu utama masih berkutat pada stok uranium yang diperkaya milik Iran. Trump mengklaim Iran bersedia menyerahkan stok tersebut, tetapi pernyataan itu dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Mereka menegaskan bahwa penyerahan uranium kepada AS tidak pernah menjadi bagian dari pembahasan.

Konflik di kawasan Timur Tengah ini bermula pada 28 Februari melalui serangan besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel ke Iran. Situasi kemudian meluas hingga melibatkan Hizbullah di Libanon. Seorang penjaga perdamaian PBB asal Prancis dilaporkan tewas dalam penyergapan di Libanon pada Sabtu (19/4) waktu setempat

Sementara itu, Israel menyebut dua tentaranya juga tewas dalam pertempuran di Libanon selatan sejak dimulainya gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Libanon pada Jumat. (Ndf/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya