Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SITUASI di perairan Timur Tengah yang belum kondusif membuat dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
"PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz," ujar penjabat sementara (Pjs) Corporate Secretary PIS Vega Pita dalam keterangan resmi, Minggu (19/4).
Pihaknya melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kementerian dan otoritas berwenang. Di saat yang sama, perusahaan juga menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman guna memastikan kelanjutan operasional kapal.
Vega menegaskan, keselamatan awak kapal, keamanan kapal, serta muatan menjadi prioritas utama perusahaan. PIS berharap kondisi di Selat Hormuz segera membaik sehingga Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat kembali melanjutkan pelayaran dengan aman.
"Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif," pungkasnya. (Ins/I-1)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved