HRW Desak Dunia Hentikan Penjualan Senjata ke Israel terkait Kejahatan Perang di Libanon

Haufan Hasyim Salengke
18/4/2026 07:24
HRW Desak Dunia Hentikan Penjualan Senjata ke Israel terkait Kejahatan Perang di Libanon
Seorang pria berdiri di bagian Jembatan Qasmiyeh yang rusak yang menjadi sasaran serangan udara Israel di dekat Tyre, Libanon selatan, 16 April 2026.(EPA)

HUMAN Rights Watch (HRW) mendesak pemerintah di berbagai negara untuk segera menghentikan penjualan senjata kepada Israel menyusul serangan terhadap infrastruktur sipil di Libanon selatan.

“Pemerintah harus memberi sinyal kepada Israel bahwa mereka tidak akan mentoleransi atau mengambil risiko keterlibatan dalam kejahatan perang dengan segera menangguhkan penjualan senjata,” kata HRW dalam sebuah pernyataan di X, Sabtu (18/4).

HRW mengecam pengeboman Jembatan Qasmieh yang menjadi jalur utama bagi warga sipil di Libanon untuk mengakses makanan, pasokan medis, dan bantuan kemanusiaan lainnya.

Serangan tersebut dilakukan oleh militer Israel pada 16 April, hanya beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata.

HRW menilai penghancuran jembatan itu berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap warga sipil dan perlu diselidiki sebagai dugaan pelanggaran hukum perang.

“Karena serangan yang disengaja ini menghancurkan satu-satunya jalur penyeberangan utama yang masih berfungsi bagi warga sipil dan bantuan, dengan potensi kerugian besar bagi warga sipil, serangan ini harus diselidiki sebagai kemungkinan serangan tidak proporsional terhadap warga sipil, yang dapat merupakan kejahatan perang,” demikian pernyataan HRW.

HRW juga menyerukan langkah tegas dari komunitas internasional untuk menekan Israel agar mematuhi hukum humaniter internasional.

Serangan terhadap infrastruktur vital di wilayah konflik dinilai semakin memperburuk kondisi kemanusiaan, terutama bagi warga sipil yang bergantung pada jalur distribusi bantuan.

Amerika Serikat dan Jerman adalah pemasok senjata utama ke Israel, yang menyumbang lebih dari 99% impor senjata konvensionalnya antara 2019 dan 2023. Kontributor lain yang lebih kecil termasuk Italia, Inggris, Kanada, dan Australia. (MEE/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya