Konflik Iran Memanas, Korea Selatan Kucurkan Stimulus Besar

Ferdian Ananda Majni
17/4/2026 14:06
Konflik Iran Memanas, Korea Selatan Kucurkan Stimulus Besar
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di selat Hormuz, Iran.(Anadolu)

PEMERINTAH Korea Selatan menyiapkan paket stimulus senilai 10,5 triliun won atau sekitar 7,1 miliar dolar AS, disertai langkah-langkah darurat tambahan guna meredam dampak ekonomi dari meningkatnya ketegangan global akibat konflik AS-Israel dengan Iran.

Menteri Keuangan Koo Yun-cheol menyatakan pemerintah akan merespons secara proaktif berbagai risiko terhadap perekonomian, termasuk tekanan terhadap mata pencaharian masyarakat dan gangguan rantai pasokan.

Ia memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah kini menjadi faktor risiko terbesar bagi ekonomi global.

Dalam kesempatan yang sama di sela pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di Washington DC, Koo juga memimpin rapat darurat ekonomi melalui konferensi video untuk mengevaluasi kesiapan negara menghadapi krisis.

"Sekarang, kemampuan untuk mengatasi perang ini adalah daya saing suatu bangsa," ujarnya dilansir kantor berita Yonhap, Jumat (17/4).

Sebagai bagian dari langkah antisipatif, pemerintah berencana melepas cadangan publik urea otomotif dan larutan urea pada akhir bulan guna mencegah potensi kelangkaan di dalam negeri.

Selain itu, pemerintah akan mempertahankan sistem respons ekonomi darurat hingga situasi konflik lebih jelas, sekaligus memperkuat upaya stabilisasi rantai pasokan dan mengurangi dampak terhadap dunia usaha serta rumah tangga.

Koo juga meminta kementerian terkait untuk mempercepat realisasi anggaran tambahan, termasuk dana bantuan yang ditujukan untuk menekan dampak kenaikan harga energi. Penyaluran bantuan dijadwalkan mulai 27 April, dengan target pencairan lebih dari 85% pada paruh pertama tahun ini.

Di tingkat internasional, Seoul meningkatkan koordinasi untuk memastikan keamanan jalur pelayaran kapal-kapal Korea Selatan di Selat Hormuz serta menjaga pasokan energi utama seperti minyak mentah dan nafta.

Langkah ini diambil setelah International Monetary Fund menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,3%, seiring meningkatnya tekanan inflasi, gangguan rantai pasokan, dan ketidakpastian keuangan global. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya