Tanpa AS dan Israel, Eropa Siapkan Pasukan Amankan Hormuz

Ferdian Ananda Majni
17/4/2026 10:14
Tanpa AS dan Israel, Eropa Siapkan Pasukan Amankan Hormuz
Ilustrasi.(Freepik)

SEJUMLAH negara Eropa tengah mendorong inisiatif untuk membuka kembali jalur perdagangan global di Selat Hormuz tanpa melibatkan Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Inggris dan Prancis memimpin upaya pembentukan pasukan internasional yang bertugas membersihkan ranjau serta mengamankan jalur pelayaran. Inisiatif ini dirancang tanpa melibatkan Amerika Serikat, Israel, maupun Iran.

Tujuan utama dari langkah tersebut ialah memulihkan kepercayaan pelaku industri pelayaran global yang terdampak oleh situasi keamanan di Selat Hormuz.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan bahwa misi tersebut bersifat defensif dan tidak akan melibatkan pihak-pihak yang tengah berkonflik.

Ia menyebut operasi ini sebagai upaya pertahanan internasional yang tidak akan melibatkan pihak-pihak yang bertikai.

Sumber diplomatik juga mengungkapkan bahwa pasukan Eropa yang direncanakan tidak akan berada di bawah komando Amerika Serikat. Sementara itu, Jerman yang sebelumnya cenderung berhati-hati dalam keterlibatan militer, diperkirakan akan ikut ambil bagian dalam inisiatif tersebut.

Meski demikian, rencana ini tidak lepas dari tantangan. Laporan menyebut adanya perbedaan pandangan antara Inggris dan Prancis terkait bentuk serta peran yang akan dijalankan dalam misi angkatan laut di Selat Hormuz.

Selain itu, setiap aktivitas militer di kawasan tersebut dinilai tetap memerlukan koordinasi dengan Iran, mengingat posisi strategis negara tersebut di jalur perairan tersebut.

Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia setelah eskalasi konflik pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta ribuan warga sipil.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan Israel dan aset militer di negara-negara Teluk. Teheran juga sempat menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap AS dan Israel.

Situasi semakin kompleks setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberlakukan blokade terhadap pergerakan kapal-kapal Iran di jalur strategis tersebut. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya