Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMANDO Keamanan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi hilangnya pesawat nirawak pengintai MQ-4C Triton pada 9 April. Insiden tersebut diklasifikasikan sebagai kecelakaan Kelas A, yang menunjukkan nilai kerugian melebihi 2 juta dolar AS, tanpa adanya korban luka di pihak personel.
Lokasi pasti kejadian tidak diungkapkan demi alasan keamanan operasional. Namun, pesawat nirawak itu terakhir terdeteksi terbang di wilayah udara internasional dengan arah menuju Iran. Hingga kini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pesawat tersebut jatuh di wilayah Iran.
Drone berkemampuan terbang tinggi tersebut diketahui bernilai sekitar 238 juta dolar AS. Saat insiden terjadi, pesawat tengah menjalankan misi pengawasan maritim di atas Teluk Persia, dekat Selat Hormuz, sebelum tiba-tiba menghilang dari sistem pelacakan penerbangan daring, seperti dilaporkan oleh The War Zone.
Pesawat ini sebelumnya lepas landas dari Pangkalan Udara Angkatan Laut Sigonella di Italia. Diproduksi oleh Northrop Grumman, MQ-4C Triton dirancang untuk misi pengintaian jarak jauh dengan kemampuan terbang lebih dari 24 jam dan mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki.
Hingga saat ini, pihak Angkatan Laut AS belum mengungkap penyebab pasti hilangnya pesawat tersebut maupun informasi terkait kemungkinan puing-puing yang ditemukan.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, seiring operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.
Sejak 28 Februari, militer AS dilaporkan mengalami sejumlah kerugian aset udara, termasuk jet tempur dan pesawat nirawak dalam berbagai insiden. (Anadolu/Fer/I-1)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved