Unjuk Gigi di Perang Iran, Jenderal AS Sebut Space Force Kini Jadi Kekuatan Tempur Nyata

Thalatie K Yani
16/4/2026 07:44
Unjuk Gigi di Perang Iran, Jenderal AS Sebut Space Force Kini Jadi Kekuatan Tempur Nyata
Kepala Operasi Ruang Angkasa Amerika Serikat (CSO), Jenderal Chance Saltzman,(Space Foundation)

KEPALA Operasi Ruang Angkasa Amerika Serikat (CSO), Jenderal Chance Saltzman, menegaskan keterlibatan aktif dalam perang yang sedang berlangsung di Iran membuktikan angkatan termuda AS ini telah menjadi kekuatan tempur yang sepenuhnya kredibel.

Dalam pidatonya di Simposium Ruang Angkasa ke-41 di Colorado Springs pada Rabu (15/04), Saltzman memamerkan evolusi kemampuan tempur pasukannya. "Kita tidak lagi berbicara tentang teori atau rencana. Kita berbicara tentang pertempuran operasional yang nyata, efek ruang angkasa, dan para Guardian (sebutan personel Space Force) yang mewujudkannya," ujar Saltzman.

Peran Krusial dalam "Operation Epic Fury"

Saltzman mengungkapkan bahwa Space Force telah mendemonstrasikan "kekuatan ruang angkasa dalam bekerja" di sepanjang konflik Iran. Hal ini mencakup misi dukungan hingga serangan perang elektronik secara langsung. Menurutnya, efek berbasis ruang angkasa telah menjadi faktor kritis bagi keberhasilan misi AS.

Ia memaparkan beberapa contoh keberanian personelnya dalam "Operation Epic Fury". Salah satunya adalah seorang spesialis yang memimpin perencanaan serangan perang elektronik berintensitas tinggi untuk Komando Pusat AS (Centcom).

"Bahkan ketika unitnya diserang oleh tembakan tidak langsung, dia tetap tenang dan melakukan pemeliharaan darurat untuk memastikan sistem senjatanya tetap dalam pertarungan. Itulah arti menjadi seorang Guardian di Space Force saat ini," tegas Saltzman.

Kasus lainnya melibatkan keberhasilan personel dalam merelokasi sistem perang elektronik di berbagai area tanggung jawab dalam satu penempatan, sebuah pencapaian teknis yang diklaim pertama kali terjadi dalam sejarah layanan tersebut.

Memahami "Perang Ruang Angkasa" Modern

Bentuk "tempur" yang dimaksud Saltzman umumnya melibatkan sabotase komunikasi atau intelijen lawan melalui gangguan sinyal (jamming). Teknik ini bisa berupa memancarkan gangguan radio ke satelit, menyorotkan laser ke sensor optik satelit mata-mata untuk membutakannya, hingga melakukan pemalsuan (spoofing) sinyal GPS untuk mengacaukan penentuan posisi lawan.

Namun, Saltzman memperingatkan bahwa ancaman serupa juga datang dari pihak lawan. Ia menyebut medan perang saat ini penuh dengan ancaman senjata gelombang mikro dan laser berbasis darat, alat pengganggu satelit GPS, hingga potensi senjata anti-satelit berkemampuan nuklir di orbit.

Pergeseran Generasi Teknologi

Menghadapi tantangan tersebut, Saltzman menyerukan adanya "pergeseran generasi" dalam cara militer mengembangkan dan meluncurkan teknologi baru. Ia menekankan bahwa fleksibilitas dan ketahanan personel adalah aset paling berharga milik Space Force dibandingkan teknologi fisik itu sendiri.

Sambil merujuk pada keterlibatan militer AS baru-baru ini di Venezuela dan Iran, Saltzman optimis pasukannya akan selalu siap menghadapi dinamika perang masa depan.

"Tidak peduli ancaman apa yang kita hadapi hari ini, besok, atau pada tahun 2040, Space Force akan ada di sana, mematikan, menjadi predator dalam pertempuran," pungkasnya. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya