Trump vs Paus Leo XIV: Perseteruan Memanas, Mahasiswa Katolik Notre Dame Meradang

Thalatie K Yani
16/4/2026 04:49
Trump vs Paus Leo XIV: Perseteruan Memanas, Mahasiswa Katolik Notre Dame Meradang
Paus Leo XIV(Media Sosial X)

UNIVERSITAS Notre Dame, salah satu institusi Katolik paling bergengsi di Amerika Serikat, kini menjadi pusat pergolakan opini. Para mahasiswa di sana mulai menunjukkan jarak dengan Presiden Donald Trump setelah sang presiden terlibat perseteruan terbuka dengan Paus Leo XIV terkait perang Iran dan unggahan media sosial yang kontroversial.

Ketegangan bermula saat Trump menyebut Paus Leo XIV "lemah dalam kejahatan" dan "buruk dalam kebijakan luar negeri" melalui media sosialnya. Trump bahkan mengklaim keberhasilan terpilihnya Paus Leo sebagai pontiff pertama asal Amerika Serikat adalah berkat dirinya.

"Leo harus berbenah diri sebagai Paus, gunakan Akal Sehat, berhenti melayani Kiri Radikal, dan fokuslah menjadi Paus yang Hebat, bukan Politikus," tulis Trump.

Paus Leo XIV merespons dengan tenang, menyatakan bahwa ia "tidak takut pada pemerintahan Trump" dan akan terus menyuarakan perdamaian.

Klaim "Yesus" dan Kecaman Blasphemy

Situasi semakin memanas ketika Trump mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya sebagai sosok menyerupai Yesus. Meski sempat dihapus dengan alasan keliru mengira gambar tersebut sebagai seorang dokter, Trump kembali mengunggah foto serupa yang memperlihatkan Yesus merangkul bahunya.

"Saya rasa itu sangat tidak sopan, terutama gambar AI yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus," ujar Sarah Jones, mahasiswa sarjana asal North Carolina.

Lochlan Shinnick, mahasiswa asal California yang berpandangan konservatif, menyebut tindakan Trump sebagai penistaan agama yang nyata. "Itu bisa dianggap sebagai penistaan agama (blasphemy) tekstual. Ada banyak opini tajam di kampus, dan saya rasa dia seharusnya tidak melakukan itu," ungkapnya.

Dampak Politik pada Basis Pemilih Katolik

Perseteruan ini bukan sekadar urusan agama, melainkan ancaman politik serius bagi Trump. Warga Katolik merupakan blok pemilih mengambang (swing voters) terbesar di AS, mencakup seperlima dari total pemilih.

Pada pemilu 2024, Trump memenangkan 59% suara Katolik. Namun, serangan terhadap pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini mulai meretakkan dukungan tersebut. Uskup Agung Paul S. Coakley, Presiden Konferensi Waligereja AS, menyatakan kekecewaannya atas kata-kata merendahkan dari presiden.

"Paus Leo bukanlah rivalnya; Paus juga bukan seorang politikus. Beliau adalah Wakil Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil," tegas Coakley.

Sikap Keras Gedung Putih

Di tengah kecaman, Trump tetap bergeming dan menolak meminta maaf. "Kami sangat percaya pada hukum dan ketertiban, dan dia tampaknya bermasalah dengan hal itu, jadi tidak ada yang perlu dimaafkan," ujar Trump kepada wartawan.

Bahkan Wakil Presiden JD Vance, yang merupakan seorang mualaf Katolik, turut membela posisi pemerintah. Dalam sebuah acara di Georgia, Vance mengingatkan agar Paus "berhati-hati" saat membahas masalah teologi dan perang.

Bagi banyak mahasiswa di Notre Dame, seperti Nick Bifone, tindakan Trump justru semakin mempertegas keberpihakan mereka. "Saya rasa saya lebih sejalan dengan Paus, terutama karena beliau selalu berargumen demi perdamaian," pungkasnya. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya