Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengeluarkan peringatan serius terkait gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Gangguan pada jalur maritim vital tersebut dinilai berisiko memicu krisis pangan global akibat terhambatnya distribusi pasokan pupuk dan energi yang memicu lonjakan harga pangan.
Dalam pernyataan resmi pada Senin (13/4), FAO menekankan bahwa kapal-kapal yang mengangkut pupuk dan energi harus segera kembali melintas secara normal. Kelancaran arus logistik di jalur tersebut sangat krusial agar gangguan pasokan tidak berlangsung lebih lama dan berdampak sistemik pada rantai pangan dunia.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menyatakan bahwa faktor waktu sangat menentukan dalam situasi ini. Ia menyoroti bahwa negara-negara miskin menjadi pihak yang paling rentan terdampak karena ketergantungan yang tinggi pada pasokan impor untuk mendukung musim tanam mereka.
"Waktu sangat penting. Jika pasokan terhambat, hasil panen bisa menurun dan harga pangan berpotensi melonjak tajam tahun depan. Kondisi ini dapat memaksa pemerintah di berbagai negara mengambil langkah darurat untuk menekan harga di dalam negeri," ujar Torero.
Meskipun indeks harga pangan global pada Maret terpantau relatif stabil berkat kecukupan stok gandum dan serealia, FAO memprediksi tekanan harga akan mulai meningkat signifikan pada periode April hingga Mei mendatang.
Data FAO mencatat bahwa sekitar 20% hingga 45% pasokan bahan penting untuk sektor pertanian global melewati Selat Hormuz. Dengan volume sebesar itu, gangguan kecil sekalipun di wilayah tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap fluktuasi harga komoditas dunia.
Kepala Divisi Ekonomi FAO, David Laborde, menambahkan bahwa dunia saat ini sudah menghadapi tantangan pasokan bahan-bahan penting. Ia mengingatkan agar ketegangan logistik ini tidak dibiarkan berlarut-larut hingga berubah menjadi bencana kemanusiaan.
Selain faktor geopolitik dan logistik di Selat Hormuz, FAO juga memperingatkan bahwa risiko krisis pangan bisa semakin parah jika fenomena cuaca ekstrem, seperti El Nino, menguat. Kombinasi antara gangguan jalur pasokan dan kegagalan panen akibat faktor iklim dapat memperburuk kerentanan pangan global di masa depan. (Anadolu/Ant/I-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved