Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCANA Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz serta seluruh perairan Iran dinilai menambah kompleksitas konflik. Alih-alih mendekati solusi, langkah tersebut berisiko memperpanjang perang tanpa kepastian akhir.
Pakar Timur Tengah, Smith Alhadar, menilai blokade menjadi upaya Donald Trump meningkatkan daya tawar demi menekan Iran kembali ke meja perundingan. Namun, strategi tersebut justru dipandang sebagai sinyal melemahnya posisi Washington di tengah situasi ketegangan yang kian kompleks.
“Trump justru menambah masalah dan akan makin sulit mengakhiri perang tanpa mengakui kekalahan strategis," kata Smith Alhadar ketika dihubungi Senin (13/4).
"Kredibilitas AS sebagai pihak yang berkomitmen atas apa yang telah disetujui semakin anjlok karena Israel masih menyerang Hizbullah. Padahal syarat gencatan senjata penghentian perang di seluruh kawasan yang melibatkan proksi Iran," tambahnya.
Menurutnya, blokade menjadi taktik AS agar Iran mau menerima syarat baru yang diajukan Washington. Meski demikian, efektivitas langkah tersebut diragukan.
Menurut dia, jika AS benar-benar memiliki kendali penuh atas kawasan tersebut, seharusnya sejak awal tidak perlu meminta bantuan sekutu untuk membuka akses Selat Hormuz. Kondisi itu menunjukkan keterbatasan daya tekan AS terhadap Iran.
Menurutnya, Paman Sam tidak punya lagi leverage yang kuat terhadap Iran. Apalagi harus berhadapan dengan Tiongkok yang menyerap sekitar 90% minyak Iran. Beijing diprediksi tidak akan tinggal diam jika jalur energinya terganggu.
Soal kegagalan perundingan antara AS dan Iran, Smith menilai kebuntuan terjadi karena Washington tetap mengajukan tuntutan lama yang sejak awal ditolak Teheran, khususnya terkait penghentian program nuklir.
Menurutnya, Iran telah konsisten menyatakan program nuklir sebagai garis merah. Sebagai penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, Iran memiliki hak mengembangkan nuklir untuk tujuan damai sebagaimana juga diatur dalam kesepakatan nuklir 2015 atau JCPOA.
Kesepakatan nuklir sebelumnya berjalan stabil hingga AS menarik diri secara sepihak pada 2018. Sejak saat itu, tekanan terhadap Iran meningkat dan memicu ketegangan berkepanjangan.
Lebih jauh, Smith menilai posisi politik domestik turut memengaruhi sikap keras Washington. Jika AS menerima syarat Iran, hal itu bisa menjadi bumerang bagi Trump di dalam negeri.
Menurutnya, konflik yang terus berlanjut bakal memperburuk situasi global mulai dari lonjakan harga energi hingga ketidakstabilan geopolitik. Dalam kondisi itu, kata Smith, pengakuan menjadi kunci untuk menghentikan eskalasi.
"Memang sulit bagi adidaya AS mengakui kekalahan tapi ini realitas yg harus diterima kalau tdk mau politik domestik AS kian bergejolak dan krisis ekonomi global semakin parah," ujarnya. (H-4)
Sejarah mencatat bagaimana blokade Kuba pada 1962 hampir menyeret dunia ke perang nuklir. Kali ini, konteksnya berbeda, tetapi logika eskalasi bekerja dengan cara yang sama.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved