Trump Ancam Blokade Selat Hormuz, Iran Balas Keras, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel

Haufan Hasyim Salengke
13/4/2026 17:08
Trump Ancam Blokade Selat Hormuz, Iran Balas Keras, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
Kapal kargo dan tanker terlihat di Selat Hormuz pada 25 Februari 2026.(AFP/Getty Images/Giuseppe Cacace)

KETEGANGAN antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kian memanas menyusul perundingan damai antara kedua negara di Pakistan gagal mencapai kesepakatan. Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan blokade di Selat Hormuz, langkah yang langsung memicu lonjakan harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel.

Trump sebelumnya menyatakan Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz serta melarang kapal mana pun di perairan internasional yang membayar biaya kepada Iran. Langkah ini diperkuat oleh pernyataan Komando Pusat AS (Centom) yang menyebut blokade terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Teluk Iran akan dimulai pada Senin pukul 10.00 waktu setempat.

Menurut Centom, langkah tersebut secara efektif akan menempatkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz di bawah kendali AS.

Menanggapi ancaman tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan sindiran keras kepada Trump melalui platform X.
“Nikmati harga pompa saat ini. Dengan apa yang disebut ‘blokade’, Anda akan segera merindukan harga bensin US$4–US$5,” tulisnya.

Dalam pernyataan sebelumnya, Ghalibaf juga menegaskan bahwa ancaman terbaru Trump tidak akan berpengaruh terhadap Iran.
“Jika Anda berperang, kami akan berperang … Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun,” tegasnya.

Dampak langsung dari eskalasi ini terlihat di pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan awal setelah pengumuman blokade oleh Trump. Harga minyak mentah AS naik 8% menjadi US$104,24 per barel, sementara minyak mentah Brent—patokan internasional—melonjak 7% ke level US$102,29 per barel.

Kenaikan harga energi tersebut juga mengguncang pasar keuangan global. Bursa saham Australia dilaporkan anjlok tajam pada pembukaan perdagangan Senin pagi, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak konflik terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, sehingga setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi secara luas. (The Guardian/B-3)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya