Jelang Negosiasi Panas, AS dan Iran Bawa Tuntutan yang Sulit Dipertemukan

Ferdian Ananda Majni
10/4/2026 18:35
Jelang Negosiasi Panas, AS dan Iran Bawa Tuntutan yang Sulit Dipertemukan
Seorang pria memegang bendera Iran yang menampilkan wajah mendiang dan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ali dan Mojtaba Khamenei, di sepanjang Lapangan Enghelab (Revolusi) di pusat Teheran.(Doc MI)

NEGOSIASI damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad akhir pekan ini menjadi sorotan dunia, karena hasilnya diyakini akan menentukan stabilitas Timur Tengah hingga arah ekonomi global.

Menjelang pertemuan tersebut, pengamanan di ibu kota Islamabad diperketat. Sejumlah ruas jalan ditutup selama dua hari, yakni Jumat (10/4) dan Sabtu (11/4), guna memastikan kelancaran kedatangan delegasi kedua negara.

Pembicaraan dijadwalkan dimulai pada Sabtu (11/4) pagi waktu setempat. Delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, bersama utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner.

Sementara itu, Teheran belum secara resmi mengumumkan susunan delegasinya. Namun, sejumlah laporan media lokal menyebut Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf kemungkinan akan memimpin perwakilan Iran dalam perundingan tersebut.

Sejumlah sumber menyebut kedua pihak diperkirakan akan menghadapi kesulitan dalam mencapai kesepakatan, khususnya terkait isi gencatan senjata.

Pada awal pekan, Presiden AS Donald Trump merujuk pada proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar pembahasan. Namun, daftar tuntutan Iran tersebut mencakup sejumlah poin yang dinilai sulit diterima Washington, seperti pengakuan atas kendali Iran terhadap Selat Hormuz, kompensasi atas kerusakan akibat perang, serta pencabutan seluruh sanksi.

Versi lain yang beredar di media pemerintah Iran juga mencantumkan tuntutan pengakuan atas hak negara tersebut untuk melakukan pengayaan nuklir.

Di sisi lain, pemerintahan Trump disebut memiliki rancangan proposal sendiri yang terdiri dari 15 poin. Meski belum dipublikasikan secara lengkap, proposal itu mencakup tuntutan agar Iran tidak memiliki senjata nuklir, menyerahkan uranium yang telah diperkaya, membatasi kemampuan pertahanannya, serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Meski terdapat perbedaan tajam, pejabat AS menyatakan proses persiapan negosiasi berjalan cepat. Wakil Presiden JD Vance bahkan memberikan peringatan kepada Teheran.

"Jika Iran memilih untuk menarik diri, itu akan bodoh tetapi itu pilihan mereka," kata Vance dikutip CNN, Jumat (10/4).

Presiden Trump juga menyampaikan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai dalam perundingan di Islamabad.

"Mereka jauh lebih masuk akal. Mereka menyetujui semua hal yang harus mereka setujui. Ingat, mereka telah ditaklukkan. Mereka tidak memiliki militer," klaim Trump dalam wawancara media.

Namun, narasi berbeda disampaikan oleh media pemerintah Iran. Mereka justru menyebut negaranya berhasil meraih kemenangan gemilang, mampu bertahan dari serangan AS dan Israel, serta memaksa Washington untuk kembali ke meja perundingan.

Perbedaan pandangan yang tajam antara kedua pihak ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih penuh tantangan, meski harapan global terhadap hasil perundingan tetap tinggi. (Fer)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya