Trump Murka, Selat Hormuz Kembali Ditutup usai Israel Bombardir Libanon

Media Indonesia
09/4/2026 20:05
Trump Murka, Selat Hormuz Kembali Ditutup usai Israel Bombardir Libanon
Ilustrasi(Dok AFP)

KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Selat Hormuz kembali ditutup, hanya beberapa jam setelah sebelumnya dijanjikan akan dibuka. Penutupan ini dipicu oleh serangan udara besar-besaran Israel ke Libanon yang memperburuk situasi gencatan senjata rapuh antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menunjukkan kemarahan atas perkembangan tersebut dan menegaskan bahwa jalur vital energi dunia itu harus tetap terbuka.


Serangan Israel ke Libanon Jadi Pemicu

Serangan Israel yang menghantam wilayah Libanon, termasuk Beirut, menewaskan ratusan orang dan memicu reaksi keras dari Iran.

Iran menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata, meskipun pihak AS dan Israel menyatakan bahwa Libanon tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.

Akibatnya, Iran kembali membatasi bahkan menutup lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.


Pernyataan Resmi Gedung Putih

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan sikap keras pemerintah AS terhadap situasi ini.

Ia menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz adalah tidak dapat diterima.

Leavitt juga menambahkan bahwa Presiden Trump menuntut agar jalur tersebut dibuka kembali secepatnya dan aman.


Dampak Global: Minyak & Stabilitas Terancam

Penutupan Selat Hormuz berdampak besar terhadap perdagangan energi global. Sejumlah kapal tanker tertahan dan lalu lintas pelayaran terganggu signifikan.

Selain itu, Iran dilaporkan sempat memberlakukan pembatasan ketat bahkan ancaman terhadap kapal yang melintas tanpa izin, memperparah kekhawatiran pasar global.


Gencatan Senjata di Ujung Tanduk

Situasi ini menunjukkan bahwa gencatan senjata antara AS, Iran, dan Israel berada di ambang kehancuran. Perbedaan interpretasi terkait cakupan wilayah, terutama Libanon menjadi sumber utama konflik baru.

Meski perundingan damai direncanakan berlangsung di Islamabad, ketegangan militer di kawasan masih tinggi dan berpotensi memicu eskalasi lebih luas. (E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya