Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IRAN menunjukkan sikap keras menjelang tenggat ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz. Hingga batas waktu mendekat, Teheran tidak memperlihatkan tanda akan mundur meski dihadapkan pada ancaman penghancuran infrastruktur sipil.
Militer Iran menolak keras pernyataan Trump yang dinilai provokatif. Mereka bahkan menyebut Trump delusional dan menegaskan operasi terhadap pasukan AS dan Israel akan terus berlanjut.
“Retorika arogan dan ancaman tanpa dasar tidak akan menghentikan operasi kami,” demikian pernyataan komando pusat Iran, Khatam Al-Anbiya.
Sebelumnya, Trump mengancam akan melancarkan serangan besar jika Iran tidak membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz hingga batas waktu Selasa (7/4) malam pukul 20.00 waktu Washington DC atau Rabu (8/4) pagi WIB.
Trump menyebut rencana tersebut sebagai penghancuran total terhadap infrastruktur vital Iran.
“Kami punya rencana di mana setiap jembatan di Iran akan dihancurkan sebelum tengah malam, dan semua pembangkit listrik akan berhenti beroperasi terbakar, meledak, dan tidak akan digunakan lagi,” ujar Trump.
"Saya maksud penghancuran total dalam empat jam jika kami menginginkannya," imbuh Trump.
Di tengah ketegangan itu, pertempuran terus meluas di kawasan. Militer Israel melaporkan gelombang baru serangan udara yang menyasar infrastruktur Iran di Teheran dan sekitarnya. Media Iran juga melaporkan ledakan terdengar di ibu kota dan wilayah Karaj.
Sebagai balasan, Iran disebut meluncurkan rudal ke arah Israel. Di kawasan Teluk, Bahrain mengaktifkan sirene serangan udara sedangkan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi melaporkan upaya intersepsi terhadap rudal dan drone yang masuk ke wilayah mereka.
Sementara itu, upaya diplomasi belum membuahkan hasil. Proposal gencatan senjata selama 45 hari yang dimediasi sejumlah negara dinilai gagal.
Media Iran menyebut Teheran menolak gencatan senjata dan menuntut penyelesaian konflik secara permanen. Teheran juga menginginkan jaminan tidak akan diserang kembali serta penghentian serangan Israel terhadap Hizbullah di Libanon selatan.
Di sisi lain, muncul wacana pembukaan kembali Selat Hormuz dengan skema baru, termasuk pengenaan biaya transit kapal. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan. (AFP/H-4)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved