Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan klaim mengejutkan dalam rapat kabinet terbaru, Selasa (31/3). Ia menyatakan bahwa Israel tengah berada dalam proses pembentukan aliansi strategis dengan sejumlah negara Arab untuk menghadapi ancaman militer dari Iran.
Melansir laporan dari harian berbahasa Ibrani Maariv, Netanyahu menegaskan bahwa peta geopolitik di Timur Tengah telah berubah drastis. Negara-negara yang sebelumnya bersikap tertutup, kini mulai melihat Israel sebagai mitra keamanan yang krusial.
Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu mengenang kembali upaya diplomatik rahasia yang ia lakukan di masa lalu. Ia mengaku telah lama memperingatkan para pemimpin Arab mengenai ambisi ekspansi Teheran di kawasan tersebut.
"Di masa lalu, saya pernah melakukan percakapan rahasia dengan para pemimpin Arab," ujar Netanyahu sebagaimana dikutip dari Maariv. "Saya mengatakan kepada mereka, 'Begitu Iran mampu, mereka akan menaklukkan Anda dan menggulingkan kerajaan Anda.' Saat itu, mereka tidak benar-benar memahami hal itu. Namun, hari ini mereka sangat mengerti."
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran akan stabilitas rezim dan kedaulatan nasional telah mendorong negara-negara Teluk untuk mengesampingkan perbedaan politik demi kerja sama pertahanan dengan Tel Aviv.
Klaim Netanyahu ini diperkuat oleh pernyataan Duta Besar Israel untuk Washington, Yechiel Leiter. Dalam sesi podcast What the Hell is Going On, Leiter mengungkapkan bahwa intensitas komunikasi dengan negara-negara Teluk meningkat pesat dalam satu bulan terakhir.
Beberapa poin penting yang disampaikan Leiter meliputi:
| Negara Terlibat | Status Hubungan Menurut Israel |
|---|---|
| Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain | Menjadi sekutu yang jauh lebih kuat dan terbuka. |
| Arab Saudi | Hubungan diklaim semakin dekat meski tanpa normalisasi formal. |
| Oman, Kuwait, dan Qatar | Disebut mulai meminta bantuan teknis dan keamanan dari Israel. |
"Beberapa sekutu kita telah menjadi sekutu yang lebih besar selama sebulan terakhir. Mereka telah meminta bantuan kita," tegas Leiter dalam podcast tersebut.
Leiter juga mengisyaratkan adanya kemungkinan tindakan militer atau operasi intelijen bersama di masa depan. Menurutnya, sinergi antara kekuatan militer Israel dan dukungan logistik serta strategis dari negara-negara Arab akan mengubah perimbangan kekuatan di Timur Tengah.
“Israel dan sekutunya akan terus bertindak. Ini benar-benar dapat membuat perbedaan besar di masa depan,” tambahnya.
Meskipun klaim ini datang secara sepihak dari pihak Israel, hal ini mencerminkan dinamika The Enemy of My Enemy is My Friend yang semakin nyata. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Arab Saudi maupun Kuwait terkait klaim kerja sama militer langsung melawan Iran tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi mengenai normalisasi hubungan diplomatik (Abraham Accords) antara Arab Saudi dan Israel, tetapi kerja sama di bidang keamanan dilaporkan terus meningkat secara tertutup.
Negara-negara Arab, khususnya monarki Teluk, mengkhawatirkan program nuklir Iran, pengembangan rudal balistik, serta pengaruh milisi pro-Iran di Yaman, Irak, dan Libanon.
Amerika Serikat berperan sebagai fasilitator utama dalam membangun arsitektur pertahanan udara terintegrasi di Timur Tengah yang melibatkan radar Israel dan pangkalan militer di negara-negara Arab. (Times of Israel/I-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved