Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Korea Selatan berhasil mengamankan komitmen krusial dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk menjadi prioritas utama penerima pasokan energi di tengah kelumpuhan jalur pelayaran global. Kesepakatan ini menjadi "napas buatan" bagi Seoul saat 70% jalur impor energinya terputus akibat penutupan total Selat Hormuz.
Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Duta Khusus Kerja Sama Ekonomi Strategis Korsel, Kang Hoon-sik, menegaskan bahwa posisi Korea Selatan kini berada di urutan terdepan dalam daftar distribusi minyak UEA.
Hal ini merupakan hasil diplomasi tingkat tinggi melalui surat pribadi Presiden Lee Jae-myung kepada Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al-Nahyan.
Dalam pernyataan resminya, Kang Hoon-sik mengungkapkan klausul tegas dalam kesepakatan tersebut yang menjamin ketahanan energi nasional.
"Tertulis dengan sangat jelas, tidak ada negara yang akan menerima minyak sebelum Korea Selatan. Kami adalah prioritas utama," tegas Kang dilansir dari Antara, Kamis (19/3).
Langkah agresif ini diambil menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di level kritis.
Harga minyak Brent terpantau melonjak hingga 3,44 persen ke level US$111,07 per barel, sementara WTI menembus US$98,61 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas pada Maret 2026.
Untuk mengatasi kebuntuan di Selat Hormuz yang de facto tertutup bagi pelayaran komersial, kedua negara telah menyepakati pengiriman darurat sebanyak 18 juta barel minyak melalui berbagai rute alternatif yang menghindari titik konflik.
Ditambah dengan pengiriman sebelumnya, total pasokan darurat yang berhasil diamankan Korsel mencapai 24 juta barel.
Teknis pengiriman akan melibatkan armada tanker raksasa dari kedua negara:
Selain minyak mentah, satu kapal tanker yang membawa nafta, bahan baku vital bagi industri petrokimia Korsel, dilaporkan sudah dalam perjalanan menuju semenanjung. Langkah ini krusial mengingat indeks KOSPI sempat tertekan akibat kekhawatiran pasokan bahan baku industri.
Bukan sekadar transaksi dagang, kesepakatan ini mempertegas kemitraan strategis "Aliansi Seabad" yang telah diperkuat sejak akhir tahun lalu. Selain jaminan energi, UEA juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi evakuasi warga negara Korea Selatan dari kawasan Teluk dengan selamat.
Ke depan, Seoul dan Abu Dhabi sepakat menjajaki kerja sama jangka panjang melalui nota kesepahaman (MoU) untuk membangun rantai pasok minyak permanen yang tahan terhadap disrupsi global. Langkah ini dipandang sebagai upaya Korsel untuk melepaskan ketergantungan pada jalur pelayaran konvensional yang rentan terhadap sabotase geopolitik di masa depan. (Ant/Z-10)
Pada saat yang sama, Flydubai mengatakan bahwa warga negara Iran yang memiliki visa emas dapat memasuki UEA.
Ia juga mendorong penggunaan transportasi umum, berbagi tumpangan, serta praktik berkendara yang efisien.
Penurunan produksi di tiga negara pertama sekitar seperlima dari total produksi Januari mereka, dan di Irak mencapai 70%, menurut laporan tersebut.
Belum ada rincian langsung yang diberikan mengenai kemungkinan kerusakan atau korban jiwa.
Serangan dua drone Iran memicu kebakaran di Pangkalan Al Salam Abu Dhabi yang menampung pasukan Prancis. UEA memastikan tidak ada korban jiwa.
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved