Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASKAPAI penerbangan Eropa Scandinavian Airlines (SAS) terpaksa membatalkan lebih dari 130 jadwal penerbangan di seluruh Norwegia pekan ini. Langkah drastis ini diambil perusahaan sebagai respons atas lonjakan harga bahan bakar global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Berdasarkan laporan penyiar publik NRK, setidaknya 119 penerbangan dari bandara utama di Oslo, Bergen, Stavanger, dan Trondheim telah dibatalkan sejak Senin (16/3) sore. Jumlah tersebut terus membengkak hingga mencapai 133 pembatalan pada Selasa (17/3) pagi waktu setempat.
Manajemen SAS menyatakan bahwa gangguan ini merupakan bagian dari "langkah darurat" untuk memperkuat ketahanan operasional perusahaan di tengah fluktuasi harga energi yang tajam. Kepala Komunikasi SAS Norwegia, Oystein Schmidt, menyebutkan bahwa gangguan lalu lintas tanker di Selat Hormuz menjadi faktor utama meroketnya biaya operasional maskapai.
Namun, langkah ini memicu kritik keras dari internal perusahaan. Ketua Asosiasi Pilot SAS Norwegia, Roger Klokset, menilai alasan lonjakan harga bahan bakar hanyalah dalih untuk menutupi masalah kekurangan staf yang kronis. Ia mengungkapkan bahwa tingkat frustrasi di kalangan kru pesawat sangat tinggi akibat kondisi kerja yang dianggap melanggar kesepakatan.
SAS menolak berkomentar tentang masalah ketenagakerjaan internal, menegaskan kembali bahwa mereka beroperasi sesuai dengan perjanjian yang ada dan menjaga dialog dengan serikat pekerja.
Krisis ini mencerminkan tekanan besar yang tengah dihadapi sektor penerbangan Eropa. Dengan satu per lima pasokan minyak global yang biasanya melewati Selat Hormuz kini terhambat, volatilitas harga avtur diperkirakan akan terus menghantui industri maskapai dalam jangka panjang jika konflik tidak segera mereda. (AA/B-3)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved