Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Jerman secara resmi menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam misi militer internasional untuk mengawal kapal dagang di Selat Hormuz. Sikap ini mempertegas posisi Berlin yang enggan terseret lebih jauh ke dalam konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang kini tengah memanas.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menegaskan bahwa Kanselir Friedrich Merz dan Menteri Pertahanan Boris Pistorius telah menyepakati posisi yang sangat jelas untuk tidak menjadi bagian aktif dari konflik tersebut. "Kami tidak akan ambil bagian dalam konflik ini," ujar Wadephul kepada lembaga penyiaran publik ARD, Minggu (15/3).
Wadephul menilai bahwa eskalasi saat ini memiliki tujuan spesifik untuk menghancurkan kapabilitas militer Iran, terutama program nuklir dan rudalnya. Ketimbang pengerahan kekuatan tempur, Jerman lebih memilih menunggu momentum diplomatik pasca-operasi militer tersebut berakhir untuk memfasilitasi negosiasi.
Terkait wacana perluasan Operasi Aspides--misi Uni Eropa yang sebelumnya fokus di Laut Merah--ke Selat Hormuz, Wadephul menyatakan keraguannya. Ia menilai operasi tersebut belum terbukti efektif memberikan keamanan yang signifikan.
"Keamanan di Selat Hormuz hanya akan tercapai jika ada solusi yang dinegosiasikan, dan jika kita kemudian juga membahasnya dengan pihak Iran," tambahnya.
Pernyataan ini muncul menjelang pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels pada Senin (16/3/2026). Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus mengeklaim adanya dukungan militer dari berbagai negara yang tidak disebutkan namanya untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut, di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat terhentinya lalu lintas kapal. (Anadolu/Middle East Monitor/B-3)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Analisis mengungkap krisis Timur Tengah picu kerugian global US$1 triliun. Di sisi lain, perusahaan minyak raup laba besar di tengah kemiskinan dunia.
Emirat Arab resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei. Langkah strategis ini diambil di tengah krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved