Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KONFLIK yang kian memanas dengan Iran memaksa negara-negara di kawasan Teluk untuk mengevaluasi ulang fondasi keamanan mereka. Kemitraan strategis dengan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dianggap sebagai "perisai" utama kini mulai dipertanyakan efektivitasnya.
Hussein Ibish, pakar senior dari Arab Gulf States Institute (IGSI), menilai bahwa kehadiran militer Amerika di tanah Arab ternyata bukan jaminan keamanan mutlak. Meskipun banyak negara Teluk menampung pangkalan militer AS, serangan demi serangan tetap saja terjadi tanpa ada perlindungan nyata.
Kepada Al Jazeera, Ibish menekankan bahwa ketidakpastian ini telah mencapai titik balik yang krusial.
"Ini adalah salah satu titik balik dari sekian banyak (kejadian), yang bermula setidaknya sejak masa Barack Obama dan 'garis merah'-nya terkait penggunaan senjata kimia oleh rezim Suriah beberapa pemerintahan lalu. Dan sekarang, Anda melihat contoh lain di mana janji, atau asumsi tersirat, mengenai perlindungan yang Anda dapatkan dengan menampung pangkalan Amerika dan menjadikan AS sebagai mitra keamanan tidak terbukti dalam praktiknya. Hal itu tidak melindungi Anda dari destabilisasi," ujar Ibish.
Ibish membeberkan deretan fakta pahit yang dialami negara-negara kawasan. Arab Saudi, misalnya, gagal terlindungi dari pengeboman oleh Iran pada September 2019. Setahun kemudian, Abu Dhabi juga dihujani bom oleh pemberontak Houthi dari Yaman.
Ia menyoroti bahwa seluruh negara anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) yang beraliansi dengan Washington tetap menjadi sasaran empuk tanpa ada konsekuensi yang berarti bagi pihak penyerang.
"Hal itu tidak melindungi Qatar dari pengeboman oleh Israel selama negosiasi dengan Hamas. Dan itu tidak melindungi siapa pun, karena keenam negara GCC, yang semuanya memiliki hubungan keamanan utama dengan Washington, semuanya telah diserang oleh Iran, sekali lagi, tanpa ada konsekuensi apa pun."
Menurut analisis Ibish, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar mulai menyadari bahwa terlibat dalam strategi agresif AS untuk membendung Iran justru menempatkan mereka dalam posisi berbahaya. Mereka merasa terekspos risiko besar, namun hanya mendapat sedikit perlindungan sebagai imbalannya.
Kondisi ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga diprediksi akan menyeret ekonomi dunia ke dalam pusaran konflik.
"Jadi, ini bukan hanya menimbulkan kerugian di Washington, tetapi juga di China, Jepang, India, Korea Selatan, secara global, karena minyak dan LNG bersifat saling menggantikan (fungible)," pungkasnya.
(Al Jazeera/P-4)
Negara Teluk (GCC) desak keterlibatan dalam perundingan AS-Iran guna jamin kedaulatan dan keamanan regional pascaserangan masif yang sasar infrastruktur vital mereka.
Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk sekutu AS, setelah fasilitas gas Iran di South Pars diserang
Penurunan produksi di tiga negara pertama sekitar seperlima dari total produksi Januari mereka, dan di Irak mencapai 70%, menurut laporan tersebut.
SERANGAN drone mengguncang Konsulat Amerika Serikat di Dubai di tengah eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran, memperluas ketegangan yang kini menjalar ke sejumlah negara Teluk dan Eropa.
Menlu Prancis Jean-Noel Barrot tegaskan kesiapan bela sekutu Teluk dari serangan rudal Iran. Simak rencana evakuasi 400 ribu warga Prancis di sini.
MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan tetap melanjutkan kunjungannya ke Pakistan pada Minggu (26/4).
PROSPEK tercapainya terobosan diplomatik dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian memudar.
Pentagon mengumumkan pengunduran diri Sekretaris Angkatan Laut AS John Phelan secara mendadak. Langkah ini memperpanjang daftar "pembersihan" pejabat militer era Trump.
MENTERI Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran mempertimbangkan perpanjangan masa gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4).
Paus Leo mengklarifikasi pidatonya tentang biaya perang yang dianggap menyindir Donald Trump. Simak penjelasannya saat melakukan kunjungan ke Afrika.
PRESIDEN Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung dan menunjukkan kemajuan positif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved