Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HUKUM rimba sedang dipertontonkan Israel melalui invasi di Jalur Gaza. Hukum internasional hanya dijadikan alasan pembenar bagi tindakan mereka, bukan penentu benar atau salah.
Situasi ini berlaku pada serangan Israel ke Jalur Gaza dengan dalih membela diri atas serangan mendadak Hamas dan mencari para petinggi Hamas yang bertanggung jawab. Serangan itu bisa terus dilakukan tanpa ada negara yang bisa menghentikan karena Amerika Serikat (AS) berada di belakang Israel.
Namun, serangan Israel sungguh sangat tidak proporsional dan banyak melanggar hukum perang yang dikenal sebagai hukum humaniter internasional. Serangan Israel sangat indiscriminate atau tidak membedakan rakyat sipil dengan mereka yang mengangkat senjata.
Baca juga: Guterres : Gaza Jadi Kuburan Massal Anak-anak Palestina
Target yang diserang pun termasuk rumah sakit dan rumah ibadah dengan alasan banyak pejuang Hamas berlindung di sana. Mayoritas negara meminta agar serangan Israel dihentikan yang tercermin dalam Resolusi Majelis Umum PBB.
Namun, karena dalam masyarakat internasional berlaku hukum rimba maka Resolusi Majelis Umum PBB ini diabaikan begitu saja. Serangan pun masih terus dilancarkan dan korban rakyat sipil terus bertambah.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai terdapat empat skenario serangan Israel dapat berhenti. Pertama, Israel berhasil menangkap para pemimpin pejuang Hamas atau menemukan mereka dalam kondisi tidak bernyawa.
Baca juga: Sejak Gempuran Israel ke Jalur Gaza, 88 Pekerja PBB Tewas
Selanjutnya Israel akan menempatkan otoritasnya untuk memastikan pejuang Hamas tidak melakukan serangan ke Israel.
Namun, bila serangan Israel untuk mencari petinggi Hamas dilawan oleh para pejuamg Hamas maka serangan akan berlangsung lama. Terlebih bila serangan dilawan oleh rakyat sipil Palestina yang tidak menginginkan tanah mereka diambil oleh Israel.
"Skenario kedua adalah bila terjadi pergantian pimpinan di Israel. Saat ini, PM Benjamin Netanyahu sedang menghadapi protes dari sebagian masyarakatnya," sebut Hikmahanto, dalam keterangan resmi, Selasa (7/11).
Bila memang terjadi pergantian pimpinan, diharapkan pemimpin baru Israel lebih lunak dalam kebijakan menghadapi Hamas dan bersedia mengakhiri serangan.
"Skenario ketiga adalah bila Presiden AS (Joe Biden) dapat mengendalikan serangan yang dilakukan Israel. Hingga saat ini, Pemerintah AS seolah membiarkan dan membenarkan serangan yang dilakukan oleh Israel karena hal tersebut merupakan hak bela diri Israel (right of self defense)," imbuh Rektor Universitas Jenderal A. Yani itu.
"Di sini pentingnya demonstrasi dari berbagai negara sehingga Biden tahu bahwa mayoritas warga dunia menentang serangan Israel demi kemanusiaan, bukan untuk membela Hamas," tegas Hikmahanto.
Menurut Hikmahanto, bila perlu masyarakat dunia memviralkan rakyat tidak berdosa yang terdampak oleh serangan Israel ke masyarakat di AS. Harapannya ada rakyat AS akan menekan pemerintahnya untuk mengendalikan Israel menghentikan serangan.
Kepala negara dan kepala pemerintahan, termasuk Presiden Jokowi, bisa juga membuka kontak langsung dengan Presiden Biden untuk menjelaskan berbagai konsekuensi bila serangan Israel terus berlanjut.
Terakhir, serangan akan berakhir bila sejumlah negara turut campur dalam perang ini. Saat ini Iran sudah melakukan latihan perang.
Namun, AS tidak mau tinggal diam dengan mengerahkan kapal induk mereka untuk menghadapi campur tangan Iran. Bahkan bukannya tidak mungkin Rusia dan Tiongkok juga akan turut campur.
"Bila skenario ini terjadi maka Perang Dunia III berada di ambang pintu. Artinya serangan Israel ke Jalur Gaza akan berhenti namun memunculkan perang yang lebih besar. Suatu hal yang tidak diharapkan oleh umat manusia," pungkas Hikmahanto. (Z-1)
Loyalis Mahmoud Abbas menang pemilu lokal Palestina, termasuk di Gaza. Partisipasi rendah, hasil dinilai langkah awal menuju persatuan politik nasional.
PPS melaporkan peningkatan penangkapan sistematis perempuan Palestina oleh Israel. 90 tahanan di Penjara Damon hadapi kondisi keras dan pelecehan.
MER-C Indonesia menyampaikan bahwa RS Indonesia di Gaza utara merupakan bukti solidaritas masyarakat Indonesia terhadap Palestina.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Tempo Scan memberikan layanan kesehatan gratis bagi 1.500 warga Palestina, terutama bagi kelompok rentan.
Fenomena pembongkaran mandiri di Jerusalem Timur meningkat. Warga Palestina terpaksa menghancurkan rumahnya sendiri untuk menghindari denda puluhan ribu dolar.
Selama periode yang sama, sebanyak 761 jasad warga Palestina telah ditemukan.
Dewan Perdamaian (BoP) mendesak Hamas serahkan senjata dan peta terowongan Gaza pekan ini sebagai bagian dari rencana perdamaian tahap kedua Donald Trump.
Komandan Hamas diculik di Gaza City, picu operasi pencarian. Di Tepi Barat, militer Israel tembak mati pemuda Palestina saat penggerebekan di Hebron.
Pejabat Hamas Bassem Naim kecam utusan Board of Peace, Nickolay Mladenov, karena syaratkan pelucutan senjata sebagai imbalan rekonstruksi Gaza dan penarikan pasukan.
Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menegaskan rencana pengiriman TNI ke Gaza merupakan misi kemanusiaan di bawah mandat PBB, bukan keterlibatan Indonesia dalam konflik bersenjata.
Studi The Lancet ungkap kematian di Gaza 35% lebih tinggi dari data resmi. Hingga Jan 2025, 75 ribu warga tewas akibat serangan Israel, mayoritas perempuan & anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved