Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI masjid, stadion, dan kota di dunia Arab, sentimen pro-Palestina melonjak setelah serangan kejutan Hamas ke Israel, memicu seruan solidaritas untuk warga Palestina.
Dari Ramalah ke Beirut, Amman, Damaskus, Baghdad, dan Kairo, warga membagikan makanan, menari, dan berdoa mendukung agar Palestina bisa merdeka dari jajahan Israel.
"Sepanjang hidup saya, saya melihat Israel membunuhi kami, merebut tanah kami, dan menangkapi anak-anak kami," seru Farah la-Saadi, 52, pedagang kopi di Ramalah, Tepi Barat.
Baca juga: Serangan Israel Tewaskan 6 Jurnalis Palestina
"Saya sangat senang melihat apa yang dilakukan Hamas," ungkap seorang pria, yang mengaku anaknya berada di dalam penjara Israel meski mengaku takut dengan aksi balasan Israel.
Serangan kejutan ke wilayah Israel, yang dilancarkan pada Sabtu (7/10) lagi oleh Hamas menyebabkan total ribuan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Militan Hamas menewaskan 900 orang di Israel setelah mereka menyerbu masuk ke wilayah selatan 'Negeri Zionis' itu, menembaki ratusan warga sipil di sebuah festival di padang pasir serta menyandera 150 orang.
Baca juga: 1.000 Warga Israel Tewas dalam Perang Melawan Hamas
Sebagai balasan, Israel menghujani Gaza dengan rudal menyebabkan 765 orang tewas. Pemerintah Israel mengklaim menemukan 1.500 jenazah militan Hamas di wilayah mereka.
Pertempuran berdarah itu membuat warga Israel bersatu untuk membela negara mereka sementara Palestina dan pendukung mereka di dunia Arab juga bersatu untuk mendukung negara itu meraih kemerdekaan.
Selasa (10/10) malam, lebih dari 4 ribu orang melakukan aksi demonstrasi di Amman, berteriak 'Hidup Hamas' dan 'Dari Gaza terdengar suara revolusi hingga mati'.
Beberapa jam usai serangan mengejutkan Hamas itu, pendukung Palestina membagikan makanan di wilayah selatan Libanon dan ibu kota Beirut.
Israel dan Libanon secara resmi masih berperang dan pasukan Israel menduduki wilayah selatan negara itu selama 22 tahun.
Warga di Kota Sidon menyalakan kembang api dan berkumpul di halaman masjid memuji, 'Pasukan Palestina yang menulis kisah kepahlawanan yang indah'.
Sebuah aksi demonstrasi digelar di American University di Beirut. Seorang mahasiswa asal Palestina berusia 18 tahun Raeem Sobh mengatakan, "Kami tidak bisa mengangkat senjata namun setidaknya kami bisa mendukung mereka."
Media sosial dibanjiri oleh dukungan untuk Hamas, salah satunya adalah tagar #Palestine-is-my-cause yang sukses trending di X.
Di Instagram, komedian Libanon Shaden Fakih menjelaskan mengenai munculnya dukungan masif kepada Palestina.
"Apa yang Anda harapkan dari warga Palestina? Dibunuhi tiap hari dan diam saja?" ungkapnya dalam unggahan video.
"Mereka mengangkat senjata dan melawan. Itu hak mereka," tegasnya sembaru menambahkan, "Saya bisa saja tidak suka dengan Hamas namun saya mendukung semua perlawanan bersenjata melawan penjajah, melawan Israel."
Di ibu kota Tunisia, sekolah-sekolah mengibarkan bendera Palestina dan berbagai organisasi serta partai politik menyerukan digelarnya aksi solidaritas.
Presiden Tunisia dengan tegas mengumumkan dukungan penuh terhadap warga Palestina dan hak mereka untuk melawan penjajahan.
Di Damaskus, bendera Palestina mewarnai opera house dalam bentuk cahaya.
Pegawai universitas di Suriah, Marah Suleiman, mengatakan serangan Hamas itu telah membangkitkan perasaan yang selama ini tidak pernah mereka rasakan dan semangat perlawanan.
"Warga Palestina tidak takut dengan aksi balasan Israel setelah berbagai aksi pembunuhan, perusakan, dan pengusuran yang selama ini dilakukan 'Negeri Zionis' itu," serunya.
Di Mesir, yang melarang aksi demonstrasi tanpa izin, pendukung sepak bola mengubah pertandingan menjadi ajang dukungan untuk Palestina dengan menyerukan yel-yel pro-Palestina.
Di Baghdad, ibu kota Irak, pasukan paramiliter dukungan Iran, menginjak-injak dan membakar bendera Israel dalam aksi demonstrasi di Alun-Alun Tahrir.
Bahkan di negara Teluk dukungan untuk Palestina memuncak meski Uni Emirat Arab dan Bahrain telah menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020.
Kedua negara itu merilis pernyataan simpati terhadap Israel namun suasana di negara itu berbicara lain.
Ekspresi solidaritas dan dukungan untuk Palestina memenuhi media sosial di Uni Emirat Arab dan tokoh politik Abdulkhaleq Abdulla mengecam serangan balasan Israel ke Gaza dan menyebutnya sebagai upaya genosida.
Di Bahrain, demonstran, yang melakukan aksi setiap hari, menggunakan keffiyeh sebagai bentuk dukungan untuk Palestina.
"Kami akan selalu mendukung saudara-saudara kami di Palestina. Jika kami bisa ke sana, kami akan berjuang bersama mereka," ujar seorang demonstran yang menolak menyebutkan namanya. (AFP/Z-1)
Loyalis Mahmoud Abbas menang pemilu lokal Palestina, termasuk di Gaza. Partisipasi rendah, hasil dinilai langkah awal menuju persatuan politik nasional.
PPS melaporkan peningkatan penangkapan sistematis perempuan Palestina oleh Israel. 90 tahanan di Penjara Damon hadapi kondisi keras dan pelecehan.
MER-C Indonesia menyampaikan bahwa RS Indonesia di Gaza utara merupakan bukti solidaritas masyarakat Indonesia terhadap Palestina.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama Tempo Scan memberikan layanan kesehatan gratis bagi 1.500 warga Palestina, terutama bagi kelompok rentan.
Fenomena pembongkaran mandiri di Jerusalem Timur meningkat. Warga Palestina terpaksa menghancurkan rumahnya sendiri untuk menghindari denda puluhan ribu dolar.
Selama periode yang sama, sebanyak 761 jasad warga Palestina telah ditemukan.
Dewan Perdamaian (BoP) mendesak Hamas serahkan senjata dan peta terowongan Gaza pekan ini sebagai bagian dari rencana perdamaian tahap kedua Donald Trump.
Komandan Hamas diculik di Gaza City, picu operasi pencarian. Di Tepi Barat, militer Israel tembak mati pemuda Palestina saat penggerebekan di Hebron.
Pejabat Hamas Bassem Naim kecam utusan Board of Peace, Nickolay Mladenov, karena syaratkan pelucutan senjata sebagai imbalan rekonstruksi Gaza dan penarikan pasukan.
Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menegaskan rencana pengiriman TNI ke Gaza merupakan misi kemanusiaan di bawah mandat PBB, bukan keterlibatan Indonesia dalam konflik bersenjata.
Studi The Lancet ungkap kematian di Gaza 35% lebih tinggi dari data resmi. Hingga Jan 2025, 75 ribu warga tewas akibat serangan Israel, mayoritas perempuan & anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved