Serangan Udara Rusia Hantam RS Anak di Mariupol, 17 Staf Terluka

Basuki Eka Purnama
10/3/2022 04:48
Serangan Udara Rusia Hantam RS Anak di Mariupol, 17 Staf Terluka
Ilustrasi--Situasi di Kota Kharkiv, Ukraina selepas serangan yang dilancarkan Rusia.(AFP/Sergey BOBOK)

SERANGAN udara Rusia, Rabu (9/3), menghantam sebuah rumah sakit anak dan rumah sakit bersalin di Kota Mariupol, Ukraina, menyebabkan sedikitnya 17 staf terluka.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengunggah sebuah video di Twitter, yang memperlihatkan kerusakan parah di sebuah komplek medis, termasuk kaca-kaca yang hancur dan tembok yang rusaik, yang disebutnya sebagai akibat serangan pasukan Rusia.

Zelensky menambahkan ada pasien dan anak-anak di bawah reruntuhan rumah sakit tersebut.

Baca juga: Sikapi Konflik Rusia-Ukraina, Indonesia Harus Berpegang Pada Pembukaan UUD 1945 

"Sejauh ini ada 17 staf rumah sakit yang terluka," ujar kepala wilayah Donetsk Pavlo Kyrylenko dalam unggahan video di Facebook. "Hingga kini, tidak ada anak-anak yang terluka dan tidak ada korban tewas."

Serangan itu terjadi saat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa invasi Rusia telah menyebabkan krisis kesehatan di Ukraina dengan sedikitnya 18 seragan menghantam fasilitas medis, ambulans, dan tenaga kesehatan menyebabkan 10 orang tewas dan 16 lainnya terluka.

Zelensky menyebut serangan ke rumah sakit anak dan bersalin itu sebagai aksi yang menjijikan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga mengutuk serangan Rusia itu dengan mengatakan, "Hanya ada sedikit hal yang lebih buruk ketimbang menargetkan serangan pada mereka yang lemah dan tidak bisa membela diri."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova tidak membantah serangan udara Moskow menghantam rumah sakit.

Dia mengklaim pasukan Ukraina menggunakan rumah sakit itu untuk melancarkan serangan terhadap pasukan Rusia setelah mengeluarkan staf dan pasien.

Mariupol, saat ini, dikepung pasukan Rusia, yang terus melancarkan serangan bom meski berjanji melakukan gencatan senjata agar warga sipil bisa dievakuasi.

Pasokan listrik, gas, dan air ke kota itu telah dihentikan, Komunikasi juga terputus dan upaya mengirimkan obat dan makan sejauh ini gagal. (AFP/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya