Menlu AS Tuding Tiongkok Deteksi Covid-19 Sejak November

Haufan Hasyim Salengke
24/4/2020 11:20
Menlu AS Tuding Tiongkok Deteksi Covid-19 Sejak November
Menlu AS, Mike Pompeo, mengadakan konferensi pers di Washington DC.(AFP/Nicholas Kamm)

MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, menuduh Tiongkok telah mengetahui virus korona (covid-19) sejak November. Pernyataan itu memperbarui tuduhan Pompeo terhadap sikap Beijing yang dinilai tidak transparan.

"Anda akan ingat kasus pertama ini diketahui oleh pemerintah Tiongkok mungkin sejak November, tetapi baru dikabarkan pada pertengahan Desember," ujar Pompeo dalam sebuah wawancara dengan pembawa acara radio konservatif, Larry O'Connor.

"Mereka lambat mengidentifikasinya untuk siapa pun di dunia. Termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)," imbuhnya.

Baca juga: Trump Ragukan Angka Virus Korona Tiongkok

Pompeo mengatakan Amerika Serikat masih menuntut lebih banyak informasi dari Tiongkok. Termasuk, sampel asli virus SARS-CoV-2 yang terdeteksi pertama kali di Kota Wuhan.

"Masalah transparansi ini penting bukan hanya sebagai masalah historis untuk memahami apa yang terjadi pada November dan Desember dan Januari. Tetapi juga penting hingga hari ini," tukas Pompeo.

"Ini masih berdampak pada banyak kehidupan warga Amerika dan juga seluruh dunia," cetusnya.

Baca juga: DPR AS Setujui Paket Bantuan Covid-19 Senilai US$ 484 Miliar

Pompeo sebelumnya mendesak Tiongkok untuk mengizinkan tim ahli memeriksa laboratorium virus di Wuhan. Tiongkok awalnya menahan informasi tentang covid-19. Pengakuan resmi pertama muncul pada 31 Desember, ketika pihak berwenang di Wuhan melaporkan kasus pneumonia yang misterius.

Direktur Darurat WHO, Michael Ryan, mengatakan pihaknya pertama kali berbicara tentang kasus di Wuhan pada 4 Januari melalui jejaring Twitter. Dia memberikan informasi terperinci pada hari berikutnya kepada semua negara anggota.

Pemerintahan Donald Trump telah mengkritik keras Tiongkok dan WHO. Dia menyalahkan kedua pihak karena tidak membendung virus, yang menewaskan lebih dari 180 ribu orang di seluruh dunia.(CNA/OL-11)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya