Perempuan Indonesia Diajak Berdaya Melalui Pendidikan dan Kemandirian

Basuki Eka Purnama
24/4/2026 21:33
Perempuan Indonesia Diajak Berdaya Melalui Pendidikan dan Kemandirian
Ilustrasi(Freepik)

GURU Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, mengajak seluruh perempuan di Indonesia untuk terus mengembangkan potensi diri. Langkah ini dinilai krusial agar perempuan mampu tampil lebih berdaya dan mandiri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Psikolog yang akrab disapa Prof. Romy ini menekankan bahwa sosok Raden Ajeng Kartini tetap menjadi teladan utama bagi perempuan masa kini. Semangat Kartini dalam memperjuangkan pendidikan harus diterjemahkan ke dalam upaya peningkatan kualitas diri di berbagai aspek kehidupan.

Pentingnya Berpikir Kritis dan Kreatif

Menurut Prof. Romy, perempuan harus membekali diri dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Hal ini diperlukan agar mereka mampu mencari solusi dari berbagai sudut pandang saat menghadapi persoalan. Kemampuan tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan melalui proses belajar yang berkelanjutan.

“Mereka (perempuan) harus tahu cara menyelesaikan masalah dengan berbagai macam cara atau melihat suatu masalah dari angle yang berbeda,” ujar Prof. Romy saat dihubungi di Jakarta.

Ia merinci beberapa pilar utama yang harus diperkuat oleh perempuan untuk membangun ketangguhan diri:

Aspek Pengembangan Metode Pengembangan
Pendidikan & Pengetahuan Menempuh pendidikan formal, non-formal, serta rajin membaca informasi terkini.
Keterampilan Sosial Melatih kemampuan berbicara secara asertif untuk menyampaikan pikiran dan keinginan.
Kemandirian Membangun kemandirian ekonomi dan mental agar tidak bergantung pada pihak lain.
Kekuatan Moral Kemampuan memilah informasi dan nilai baik-buruk sejak dini.

Peran Orangtua dan Pendidikan Sejak Dini

Lebih lanjut, Prof. Romy menyoroti pentingnya peran keluarga dalam menstimulasi kekuatan anak perempuan sejak di rumah. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua dalam mendampingi anak mengakses informasi.

“Pendidikan itu bukan saja formal, tetapi banyak pendidikan lain yang harus distimulasi oleh orangtua di rumah. Ini perlu diberikan agar anak perempuan bisa survive dan memiliki moral untuk memilah mana yang baik dan buruk,” tambahnya.

Sikap Asertif dan Perlindungan dari Kekerasan

Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah mengenai kemampuan berbicara asertif. Prof. Romy menilai, banyak perempuan yang terjebak dalam situasi intimidasi atau kekerasan karena tidak memiliki keberanian untuk bersuara atau melapor.

Ketergantungan terhadap pelaku kekerasan seringkali menjadi penghambat utama korban untuk mencari keadilan. Oleh karena itu, kemandirian menjadi kunci bagi perempuan untuk melepaskan diri dari lingkaran tersebut.

“Sebagai perempuan, mereka harus punya kemampuan untuk lebih mandiri, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dan juga keluarganya. Dengan kemandirian, ketergantungan itu bisa dilepaskan,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya