Pendamping Korban Ceritakan Kekejian Peristiwa Perkosaan Massal Mei 1988

Despian Nurhidayat
22/4/2026 13:09
Pendamping Korban Ceritakan Kekejian Peristiwa Perkosaan Massal Mei 1988
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PENDAMPING korban perkosaan Mei 1998, Ita Fatia Nadia, menceritakan pengalamannya dalam menangani para perempuan yang menjadi korban perkosaan massal Mei 1998. Salah satu kisah harus yang dia ungkapnya terjadi pada seorang perempuan berusia 11 tahun. 

“Di tangan saya ada 15 korban dari yang terkecil bernama Fransiska di Tangerang Selatan yang diperkosa dan meninggal. Mayatnya saya bawa bersama tim relawan ke Cilincing untuk dikremasi. 11 tahun umurnya yang dihancurkan alat kelaminnya. Anda bisa membayangkan. Dikremasi dan kami menunggu sampai jam 4 pagi menotok satu demi satu tulangnya kami bungkus. Saya dekap abunya, saya bawa ke Cilincing dan saya taburkan abunya karena mama dan kakaknya meninggal duluan. 11 tahun,” ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor Komnas Perempuan, Rabu (22/4). 

Korban lainnya ialah Ita Martadinata, di mana seminggu sebelum dibunuh, Ita Fatia mengatakan bahwa dirinya masih duduk bersama Ita Martadinata dan bercerita bagaimana antusiasmenya dia akan berangkat ke PBB di New York untuk bercerita. 

“Tapi sebelum itu, saya mengantar Ita Martadinata untuk menemui seorang dokter di RSCM. Ketika kita bertemu, sebelum dia dibunuh, dia diperiksa dan vaginanya sudah hancur mengalami infeksi. Saya cerita ini karena saya sudah marah. Ita Martadinata diperkosa dua kali pada akhir Mei 1998 dan sebelum dia dibunuh di kamarnya. 45 menit setelah dia dibunuh, saya hadir di kamarnya, lehernya dibuka sampai sini (dahi), darahnya masih hangat. Bayangkan,” ujar Ita Fatia. 

“Belum lagi seorang anak umur 13 tahun yang disuruh minum baygon oleh keluarganya sendiri karena malu dia sudah diperkosa. Dia disuruh bunuh diri oleh keluarganya. Anak umur 13 tahun,” sambungnya. 

Tim relawan untuk kemanusiaan dan tim relawan untuk kekerasan terhadap perempuan menurutnya telah menyimpan sejumlah dokumen dan arsip yang valid. Terdapat nama, alamat, dan keluarga secara jelas. 

“Semua etnis Tionghoa. Seorang ibu di Cengkareng yang vaginanya ditusuk dengan batang sapu. Kami bawa dengan seorang haji, kami naik motor butut malam-malam jam 2 sampai kami harus diikat dengan pendarahan yang terus menerus. Kami bawa ke RS Siloam di Kebon Jeruk. Itu semua yang disangkal oleh Fadli Zon dan dinegasikan oleh PTUN. Ini fakta sejarah,” tegas Ita Fatia. 

Saat ini, menurutnya tubuh dan seksualitas perempuan telah dijadikan alat perubahan politik di Indonesia yang dijadikan alat untuk meneror masyarakat. 

“Masih ada di Surabaya saya menerima perempuan umur 19 tahun yang diperkosa di lemari. Belum lagi mahasiswa kedokteran Atma Jaya berusia 18 tahun yang dipotong payudaranya dan berdarah-darah. Apakah ini bukan fakta dan akan disangkal serta dinegasikan? Saya akan mengatakan tidak,” tegasnya. 

“Saya tidak akan berhenti menuntut Fadli Zon dan saya tidak akan berhenti membela mereka. Saya akan tetap berjuang karena tubuh dan suara mereka sekarang sudah dihilangkan dan dinegasikan oleh negara ini. Negara ini harus bertanggung jawab, negara ini telah melakukan teror dan kekerasan terhadap perempuan. Jika kita membiarkan impunitas dari pejabat negara, seluruh tubuh dan seksualitas kita sebagai perempuan Indonesia akan menjadi objek dari kekerasan berikutnya,” lanjut Ita Fatia. 

Dia pun menekankan bahwa dirinya sampai detik ini melawan militerisme karena seluruh dokumen dan arsip yang dicatat olehnya menunjukkan bagaimana para militer itu melakukan kekerasan. 

“Tidak hanya pada Mei 1998, tapi juga pada 1965 terhadap mereka yang dituduh sebagai Gerwani. Saya seorang sejarahwan dan saya mengumpulkan seluruh arsip dari para perempuan yang dituduh sebagai Gerwani dan bagaimana mereka diperkosa dan dihancurkan seksualitasnya,” urainya. 

“Kita sebagai perempuan berpotensi menjadi korban kekerasan seksual oleh negara ini karena negara ini melakukan impunitas dan menegasikan tubuh dan seksualitas perempuan. Negara ini telah menghilangkan perempuan sebagai manusia dengan menjadikannya sebagai objek kekerasan. Saya akan melawan dan saya tidak takut,” tandas Ita Fadia. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya