Praktik Perjokian masih Terjadi pada Pelaksanaan UTBK 2026

Despian Nurhidayat
21/4/2026 13:13
Praktik Perjokian masih Terjadi pada Pelaksanaan UTBK 2026
Ilustrasi(MI/DESPIAN NURHIDAYAT)

KETUA Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok, mengatakan bahwa pada hari pertama pelaksanaan ujian tulis berbasis komputer (UTBK) 2026, praktik kecurangan masih terus terjadi.

“Pertama kita mendapatkan kecurangan di pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat. Kecurangannya berupa indikasi menggunakan alat bantu. Jadi alat bantu ini disembunyikan di pakaian dan sebagainya, kita akan melakukan tindakan sebagaimana diatur dalam regulasi. Masih di tempat tersebut, ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi orang yang sama itu mengikuti UTBK di 2025 dan pada tahun ini dia ikut lagi dengan nama yang berbeda. Jadi orangnya sama tapi punya dua nama. Itu udah pasti merupakan joki. Kita sudah bisa deteksi sedari dini melalui sistem yang kita kembangkan berkaca dari tahun lalu,” ungkapnya dalam konferensi pers hari pertama pelaksanaan UTBK 2026, Selasa (21/4).

Selain di Sulawesi Barat, kecurangan juga ditemukan di Pusat UTBK Universitas Negeri Surabaya. Eduart mengatakan bahwa ditemukan praktik kecurangan perjokian. 

“Jadi sama, yang masuk ruang ujian pada tahun 2025 menggunakan nama yang berbeda. Setelah kita lacak sampai ke sekolah, ternyata sekolah tidak memberikan surat keterangan lulus bagi yang bersangkutan,” kata Eduart. 

Praktik kecurangan lainnya ditemukan di Universitas Diponegoro Semarang, di mana peserta menanamkan alat bantu yang hampir berasa di area gendang telinga. 

“Bahkan dia harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas itu,” tuturnya. 

Selanjutnya kecurangan perjokian juga ditemukan di Universitas Negeri Malang, Universitas Airlangga, dan UPN Jawa Timur juga perjokian. 

“Fotonya dimodifikasi dikit tapi tidak mengubah mukanya. Karena dari face recognition juga ketahuan,” ujar Eduart. 

Dalam pelaksanaan di hari pertama ini, Eduart mengatakan praktik kecurangan yang dilakukan yaitu menggunakan alat bantu dan sistem joki. Dia menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperketat pelaksanaan UTBK dan peserta yang melakukan kecurangan dipastikan tidak akan lulus. 

“Itu sudah pasti. Nanti jokinya juga bisa dipidana terkait pemalsuan dan sebagainya itu proses akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku,” urainya. 

Eduart menekankan bahwa informasi ini sengaja disampaikan pada hari pertama pelaksanaan UTBK 2026 secara detail agar di hari berikutnya tidak dilakukan tindakan yang sama. 

“Jadi di hari kedua dan terakhir yang berniat curang mendingan tidak usah. Kita imbau itu. Karena kita sudah mengidentifikasi ada 2.640 data anomali yang berpotensi melakukan kecurangan. Kita sudah melakukan pengawasan yang lebih ketat lagi di pusat UTBK yang memiliki data anomali. Jadi kami sampaikan jauh lebih baik bagi yang ingin melakukan kecurangan sebaiknya diurungkan. Kasihan calon mahasiswa yang ingin berjuang untuk meraih masa depan yang lebih baik dengan cara-cara seperti ini,” tegas Eduart. 

Perlu diketahui, Eduart pada hari ini melaksanakan monitoring dan evaluasi UTBK hari pertama di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. 

Dalam kesempatan yang sama, Eduart juga melakukan koordinasi dengan 74 pusat UTBK yang secara serentak juga menyelenggarakan UTBK pada hari ini. 

“Kami melakukan ini karena berkaca pada dua faktor utama. Pertama dari kejadian tahun lalu, kecurangan yang masif dan harus berbenah serta melakukan pencegahan sedemikian rupa sehingga pelaksanaan UTBK bisa lebih baik. Kedua, kami juga menemukan data anomali yang tidak jauh berbeda dengan tahun lalu yang jadi dasar penemuan kita atas kecurangan pada tahun lalu,” jelasnya. 

Pada tahun ini, pihaknya telah melakukan berbagai perubahan, mulai dari pendaftaran dan pemilihan pusat UTBK, di mana peserta tidak lagi dapat memilih lokasi UTBK, tapi memilih kota pelaksanaan UTBK. Adapun tempat pelaksanaan UTBK untuk peserta dilakukan oleh panitia. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya