Penguatan SDM dan Kolaborasi ASEAN Jadi Strategi Cegah Kebakaran Lahan Gambut

Despian Nurhidayat
15/4/2026 18:51
Penguatan SDM dan Kolaborasi ASEAN Jadi Strategi Cegah Kebakaran Lahan Gambut
2nd Training of Trainers for Forest Fire Suppression in Peatland.(Kemenhut)

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor kunci dalam pengendalian kebakaran hutan, khususnya di ekosistem gambut yang memiliki karakteristik kompleks dan berisiko tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan 2nd Training of Trainers for Forest Fire Suppression in Peatland yang digelar di Bogor dan Sumatera Selatan pada 13-24 April 2026.

Pelatihan ini melibatkan peserta dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, dan Kamboja. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Forest Fire Management in Asia (FFMA) yang dikembangkan oleh Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) bersama Kementerian Kehutanan RI, dengan dukungan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis, Korea Forest Service, serta IPB University.

"Pengendalian kebakaran hutan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan peralatan, tetapi harus ditopang oleh SDM yang memiliki keterampilan teknis dan kesiapsiagaan tinggi, baik dalam pencegahan maupun penanganan kebakaran," ujar Rohmat.

Lebih dari itu, pelatihan ini dinilai strategis dalam memperkuat koordinasi lintas negara, mengingat kebakaran hutan, terutama di kawasan gambut, memiliki dampak regional, seperti kabut asap lintas batas. Ia juga menekankan pentingnya membangun regional trainer network agar pengetahuan yang diperoleh dapat direplikasi di masing-masing negara.

Sementara itu, perwakilan International Tropical Peatlands Center (ITPC), Ayu Dewi Utari, menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam pengelolaan gambut untuk mencegah kebakaran hutan.

Menurutnya, pengelolaan gambut harus dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu rewetting (pembasahan kembali), revegetasi, dan revitalisasi ekonomi masyarakat dalam satu kesatuan hidrologi gambut (KHG). Pendekatan parsial dinilai tidak efektif karena berpotensi mengganggu keseimbangan air dan meningkatkan risiko kekeringan yang memicu kebakaran.

"ITPC berperan sebagai platform kolaborasi internasional yang mendorong pertukaran pengetahuan berbasis sains, penguatan kapasitas, serta kerja sama antarnegara dalam pengelolaan gambut tropis," tutur Ayu.

Di sisi lain, Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan Kementerian Kehutanan Gun Gun Hidayat menyatakan bahwa pemerintah mendorong peran ITPC semakin aktif dalam berbagi praktik terbaik terkait pengelolaan gambut, khususnya dalam konteks penanganan kebakaran hutan.

Menurutnya, penguatan peran ITPC penting untuk menghasilkan strategi yang lebih efektif, berbasis sains, serta adaptif terhadap kondisi lapangan. Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan terpadu yang menggabungkan pembelajaran di kelas, simulasi, dan praktik lapangan. Peserta dibekali pemahaman teknis terkait karakteristik kebakaran gambut, termasuk fenomena underground smouldering (pembakaran bawah permukaan), serta teknik pengelolaan air seperti rewetting.

Kegiatan ini menjadi bagian dari fase utama FFMA periode 2026–2030 yang bertujuan membangun sistem pelatihan yang lebih terstruktur, terinstitusionalisasi, dan dapat direplikasi di berbagai negara. Selain meningkatkan kapasitas individu, program ini juga menghasilkan keluaran strategis seperti modul pelatihan, laporan implementasi, dan policy brief yang dapat menjadi rujukan dalam penguatan kebijakan pengendalian kebakaran gambut di tingkat nasional maupun regional. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya