DALAM khazanah tafsir Al-Qur'an, terdapat satu momentum krusial yang menggambarkan estafet perjuangan Islam tidak terbatas pada satu bangsa saja. Hal ini merujuk pada firman Allah SWT dalam Surat Muhammad ayat 38:
...وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم
"...Dan jika kamu berpaling (dari jalan Allah), niscaya Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)."
Riwayat Salman Al-Farisi dan Kecintaan pada Iman
Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya-tanya mengenai siapa sosok kaum lain yang dimaksud oleh Allah SWT. Berdasarkan riwayat yang otoritatif, Rasulullah SAW memberikan isyarat yang sangat jelas.
Rasulullah SAW menoleh kepada Salman Al-Farisi, menepuk pundaknya, dan bersabda:
"Orang ini dan kaumnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya iman itu tergantung di bintang Tsuraia (ujung bintang), niscaya akan dicapai oleh orang-orang dari kaum ini (Persia)."
Validitas dalam Kitab-Kitab Tafsir Utama
Riwayat ini bukan sekadar penafsiran tunggal, melainkan diakui oleh mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Anda dapat menemukan penjelasan mendalam mengenai hadis ini dalam berbagai kitab tafsir dan hadis terkemuka, di antaranya:
| Kategori | Nama Kitab / Imam |
|---|---|
| Tafsir Otoritatif | Tafsir At-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qurthubi |
| Riwayat Hadis | Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Imam Bukhari |
| Status Hukum | Sahih / Hasan |
Relevansi Konteks Sejarah dan Masa Kini
Pernyataan Rasulullah SAW mengenai kegigihan kaum Salman Al-Farisi dalam mencari kebenaran dan menjaga iman menjadi catatan sejarah yang penting. Bangsa Persia (yang kini menjadi Iran) dalam lintasan sejarah Islam memang melahirkan banyak ulama besar, pemikir, dan ilmuwan yang kontribusinya tak terhapuskan bagi peradaban Islam.
Baca juga: Muhammadiyah Tolak Disamakan dengan Salafi, ini Sembilan Perbedaannya
Melihat dinamika dunia Islam hari ini, ayat dan hadis ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim. Allah SWT tidak menggantungkan kemuliaan agama ini pada satu etnis atau bangsa tertentu, melainkan pada keteguhan iman dan kesetiaan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam. Jika satu kaum berpaling, Allah dengan mudah akan memunculkan kaum lain yang lebih mencintai-Nya dan lebih gigih dalam membela agama-Nya.
Ulama terkemuka asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), pada Kamis (9/4), melalui akunnya di Instagram, menyinggung ayat dan hadis di atas. "Kita bisa menemukan riwayat ini di hampir semua kitab tafsir Ahlussunnah Wal Jamaah seperti tafsir Imam Thabary, Imam Ibnu Katsir, Imam Qurthuby, dan yang lain," tulisnya.
Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini dengan redaksi yang mirip dan substansi yang sama. Para ulama menyatakan hadis ini sahih. "Melihat Iran hari ini, saya teringat ayat dan hadis ini," tandasnya.
Baca juga: Tafsir Ayat Isra Mikraj dari Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Wahbah Zuhaili
Tafsir Jami’ al-Bayan: Perspektif Imam At-Thabari
Imam At-Thabari dalam tafsirnya menekankan bahwa seruan dalam ayat ini ditujukan kepada para sahabat Nabi dan umat Islam secara umum untuk berjihad dengan harta. At-Thabari menyoroti frasa "Famin-kum man yabkhal" (maka di antara kamu ada yang kikir). Menurut beliau, kekikiran tersebut pada hakikatnya tidak merugikan Allah sedikitpun, melainkan merugikan diri sendiri karena kehilangan pahala di akhirat.
Terkait potongan ayat "Wa in tatawallau yastabdil qauman ghairakum" (Dan jika kamu berpaling, Niscaya Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain), At-Thabari menjelaskan bahwa jika umat Islam saat itu enggan menaati perintah Allah dan Rasul-Nya serta kikir dalam berjuang, maka Allah akan mendatangkan kaum lain yang lebih taat, lebih dermawan, dan tidak akan menyerupai sifat-sifat buruk kaum sebelumnya.
Baca juga: Nabi Muhammad Ibarat Cahaya, ini Dalil-Dalil Ulama Tafsir
Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: Perspektif Ibnu Katsir
Ibnu Katsir memberikan penekanan pada sifat Allah Al-Ghani (Maha Kaya). Beliau menjelaskan bahwa Allah memerintahkan infaq bukan karena Allah membutuhkan bantuan manusia, melainkan untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. "Allah adalah Yang Maha Kaya, sedangkan kalianlah yang membutuhkan-Nya (al-fuqara)," tulis Ibnu Katsir.
Dalam menjelaskan kaum pengganti tersebut, Ibnu Katsir mengutip beberapa riwayat hadis. Salah satu yang masyhur adalah ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa kaum tersebut, beliau menepuk bahu Salman Al-Farisi dan bersabda bahwa mereka adalah kaum dari negeri Salman (Persia). Ibnu Katsir menegaskan bahwa inti dari ayat ini adalah peringatan agar umat Islam tidak merasa jemawa, karena kedudukan mereka di sisi Allah bergantung pada ketaatan, bukan nasab atau bangsa.
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
Tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an: Perspektif Al-Qurthubi
Imam Al-Qurthubi, yang dikenal dengan pendekatan fikihnya, menyoroti bahwa kikir (bukhl) dalam ayat ini berkaitan dengan kewajiban zakat dan infaq fi sabilillah. Beliau menjelaskan bahwa orang yang kikir sebenarnya sedang menahan hak dirinya sendiri untuk mendapatkan keselamatan di akhirat.
Al-Qurthubi juga merinci perdebatan ulama mengenai identitas kaum pengganti. Selain pendapat yang merujuk pada bangsa Persia (seperti pendapat Ibnu Katsir), beliau juga mencantumkan pendapat lain yang menyatakan bahwa mereka bisa jadi kaum dari Yaman atau bangsa lain yang memiliki hati lebih lembut dan kepatuhan lebih tinggi kepada syariat. Poin utama Al-Qurthubi yaitu Allah tidak butuh pada ibadah kita; jika kita berpaling, Allah dengan mudah menciptakan generasi baru yang lebih baik.
Baca juga: Tafsir Surat Asy-Syura Ayat 11 tidak Ada yang Menyerupai Allah
Siapakah Kaum yang akan Menggantikan jika Muslim Berpaling?
Pertanyaan ini sering muncul dalam kajian tafsir. Berdasarkan sintesis ketiga tafsir di atas, "kaum pengganti" memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Ketaatan Mutlak: Mereka tidak akan membangkang seperti kaum yang digantikan.
- Kedermawanan: Mereka tidak kikir dalam menginfakkan harta untuk agama.
- Keteguhan Iman: Mereka memiliki kecintaan yang besar kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta pada dunia.
Baca juga: Tafsir Al-Maidah Ayat 44 tentang Orang Berhukum selain dari Allah
Kisah Salman Al-Farisi adalah simbol bahwa Islam adalah agama universal. Kegigihan beliau mencari kebenaran dari Persia hingga bertemu Rasulullah di Madinah adalah prototipe pencari iman yang dipuji langsung oleh langit.
