Kemdiktisaintek dan KP2MI Wujudkan Visi Presiden Kirimkan 500 Pekerja Migran Indonesia dengan High Skill

Despian Nurhidayat
08/4/2026 17:40
Kemdiktisaintek dan KP2MI Wujudkan Visi Presiden Kirimkan 500 Pekerja Migran Indonesia dengan High Skill
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Fauzan(ANTARA)

KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggelar forum diskusi dan sosialisasi bertajuk Peluang dan Tantangan Tenaga Kerja Terampil Indonesia untuk Bekerja di Luar Negeri melalui Penguatan di Perguruan Tinggi di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu (8/4). 

Forum ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama antara Kemdiktisaintek dengan KP2MI untuk mewujudkan visi Presiden Prabowo mengirimkan 500 ribu pekerja migran Indonesia dengan high level skill ke berbagai negara. 

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Fauzan, mengatakan bahwa saat ini terdapat masalah besar yang perlu kita selesaikan yaitu budaya kerja ke luar negeri. 

“Ini jadi PR kita bersama. Kita ingin membangun kolaborasi kuat untuk menciptakan budaya baru, bahwa kerja ke luar negeri tidak kalah terhormat dengan kerja dalam negeri. Kita ada semacam kendala budaya di Indonesia yang sampai saat ini kita rasakan. Jadi ketika anggota keluarga yang keluar dari domisilinya, dianggap akan mengganggu stabilitas keluarga,” kata Fauzan. 

“Di era globalisasi, kita harus merespons. Jangan hanya sekadar jadi penonton, tapi kita harus jadi pelaku. Jujur saya iri dengan India. Di mana saja berada itu mereka ada. Nah di Indonesia pekerjaan yang berbasis teknologi kebanyakan orang India. Tentu ini harus kita maknai bahwa jiwa ekspansif orang India lebih kuat dari orang Indonesia,” sambungnya. 

Lebih lanjut, Fauzan menekankan bahwa pihaknya mencoba untuk menjadikan kampus sebagai pusat layanan kerja ke luar negeri. Hal ini menurutnya tentu tidak mudah karena dibutuhkan cara berpikir atau mindset global. 

“Ini skema menarik karena kita memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mampu berkarier di luar negeri,” ujar Fauzan. 

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dwi Setiawan Susanto, menambahkan bahwa penempatan pekerja migran saat ini sudah berubah menjadi skill worker. 

“Kita mau tempatkan 500 ribu skill worker. Sebenarnya semua sektor itu skill worker baik itu caregiver dan caretaker. Tapi transformasi ini belum menyetuh sektor formal. Kami sudah mengakses lebih dari 100 negara. Job order bisa mencapai 1,5 juta tapi prosesnya panjang. Tapi yang bisa kita tempatkan baru 19 persen,” kata Dwi Setiawan.

Menurutnya, saat ini di seluruh kampus sudah ada Career Development Center (CDC) yang dapat dimanfaatkan untuk melatih calon pekerja migran Indonesia. 

“Kita butuh spesifik untuk ke luar negeri karena standar kompetensinya berbeda. Jerman berbeda dengan Inggris misalnya. Ini sedang kita petakan dan kami sudah bertemu berbagai stakeholder di berbagai negara dan umumnya kepuasan terhadap migran kita luar biasa. Hal yang perlu di-upgrade mungkin terkait bahasa,” jelasnya. 

“Nah ini semua sudah ada di kampus. Inilah pentingnya kolaborasi dengan Kemdiktisaintek. Hanya saja kita perlu mulai memetakan karena peluang kerja tidak selalu sama dengan lulusan. Karena pekerjaan itu kita sebut ‘tukang’. Misalnya tukang las di Indonesia itu berapa penghasilannya, tapi ketika di negara lain sudah berbeda ceritanya. Biasanya mencapai Rp100 juta penghasilannya,” lanjut Dwi Setiawan.

Menurutnya saat ini sudah ada 13 perguruan tinggi yang membentuk migrant center dan 12 lainnya masih on progress. Alumni yang ada di luar negeri dapat menjadi marketing intelijen agar 2026 Indonesia dapat dilihat sebagai penghasil dari para pekerja terampil. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya