2 WNI asal Sulsel Disandera Bajak Laut Somalia

Andhika Prasetyo
29/4/2026 05:50
2 WNI asal Sulsel Disandera Bajak Laut Somalia
ilustrasi(Antara)

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) bergerak cepat merespons kabar penyanderaan dua warga asal Sulsel oleh perompak atau bajak laut Somalia di perairan internasional. Kedua warga tersebut merupakan awak Kapal Tanker Honour 25 yang dilaporkan dibajak sejak 21 April 2026.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menegaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah pusat untuk memastikan keselamatan para korban.

“Kami telah menghubungkan keluarga korban dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri. Kami terus memantau perkembangannya,” ujar Andi Sudirman di Makassar, Selasa (28/4/2026).

Identitas Korban Asal Sulawesi Selatan

Berdasarkan data yang dihimpun, dua warga Sulsel yang menjadi korban penyanderaan tersebut adalah:

  • Ashari Samadikun: Kapten kapal, berasal dari Kabupaten Gowa.
  • Faizal: Mualim III, berasal dari Kabupaten Bulukumba.

Sebagai bentuk pendampingan nyata, Gubernur telah menginstruksikan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulsel, Jayadi Nas, untuk mengunjungi kediaman keluarga korban di Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa.

Kondisi Terkini dan Jalur Diplomasi

Jayadi Nas menjelaskan bahwa kunjungan ke pihak keluarga bertujuan untuk memberikan dukungan moril sekaligus memperkuat koordinasi dengan kementerian terkait, termasuk Wakil Menteri P2MI.

“Kami memastikan pemerintah hadir. Berdasarkan komunikasi terakhir, kondisi para korban dilaporkan dalam keadaan selamat, meskipun situasi di lokasi penyanderaan masih sangat dinamis dan belum menentu,” jelas Jayadi.

Ia menambahkan bahwa pemerintah pusat saat ini tengah mengedepankan jalur diplomasi dengan melibatkan otoritas terkait di kawasan perairan tersebut guna mengupayakan pembebasan seluruh awak kapal.

Kesaksian Keluarga: Sempat Ditodong Senjata

Istri dari Kapten Ashari Samadikun, Santi Sanaya, mengungkapkan kekhawatirannya setelah sempat berkomunikasi dengan suaminya sebelum situasi memburuk. Menurut Santi, suaminya mengabarkan adanya upaya negosiasi, namun terkendala bahasa antara awak kapal dan perompak.

“Suami saya sempat meminta agar tidak dihubungi lagi karena khawatir teleponnya digunakan atau disita oleh perompak. Situasinya kadang mencekam, suami saya bahkan sempat ditodong senjata,” ungkap Santi dengan nada cemas.

Meski berada di bawah tekanan hebat, informasi terakhir menyebutkan bahwa 17 awak kapal—termasuk empat warga negara Indonesia (WNI)—masih dalam kondisi sehat, diberikan makan, dan tetap diizinkan beribadah.

Santi, yang kini mengasuh dua anaknya, berharap besar kepada Pemerintah Indonesia agar proses negosiasi berjalan lancar sehingga suaminya dan seluruh kru kapal dapat segera dibebaskan dan kembali ke tanah air dengan selamat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemprov Sulsel terus bersiaga menunggu informasi resmi dari Kementerian Luar Negeri terkait perkembangan operasi penyelamatan di perairan Somalia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya