Mengenal Night Terror pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Basuki Eka Purnama
07/4/2026 09:21
Mengenal Night Terror pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi(Freepik)

FENOMENA anak yang tiba-tiba berteriak histeris atau tampak sangat ketakutan saat tidur sering kali memicu kepanikan luar biasa bagi orangtua. Kondisi yang dikenal sebagai night terror atau sleep terror ini belakangan menjadi topik hangat yang diperbincangkan di masyarakat dan media sosial.

Menanggapi hal tersebut, dr. Yeni Quinta Mondiani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, memberikan penjelasan ilmiah untuk meluruskan persepsi masyarakat. Menurutnya, tidur bukan sekadar istirahat, melainkan fungsi biologis krusial bagi pemulihan fisik dan perkembangan sistem saraf anak.

Memahami Fase Tidur dan Parasomnia

Secara medis, tidur terbagi menjadi dua fase utama: Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Fase tidur dalam atau deep sleep terjadi pada tahap 3 dan 4 NREM, di mana tubuh melakukan proses restorasi.

"Gangguan seperti night terror termasuk dalam kelompok parasomnia, yakni gangguan bangun parsial dari fase Non-REM sebagaimana diklasifikasikan oleh American Academy of Sleep Medicine," jelas Yeni.

Berbeda dengan mimpi buruk yang biasanya terjadi menjelang pagi, night terror umumnya muncul pada sepertiga awal malam, sekitar 60 hingga 90 menit setelah anak terlelap.

Gejala dan Karakteristik Night Terror

Saat mengalami episode ini, anak akan menunjukkan tanda-tanda fisik yang cukup intens. Berikut adalah ringkasan gejala dan karakteristik night terror berdasarkan penjelasan dr. Yeni:

Aspek Deskripsi Gejala
Reaksi Fisik Berteriak panik, menangis, gelisah, jantung berdebar, napas cepat, dan berkeringat.
Kesadaran Sulit dibangunkan dan tidak merespons saat ditenangkan.
Pasca Kejadian Anak tampak bingung sesaat lalu kembali tidur.
Ingatan Keesokan harinya, sebagian besar anak tidak mengingat kejadian tersebut.

Penyebab dan Penanganan di Rumah

Salah satu faktor pencetus utama night terror adalah kelelahan atau kurang tidur. Yeni menekankan bahwa menjaga kualitas dan kecukupan waktu tidur adalah kunci utama pencegahan. Ia juga mengimbau orang tua agar tetap tenang dan tidak membangunkan anak secara paksa saat episode terjadi.

"Pastikan lingkungan aman agar anak tidak cedera. Jika perlu, orang tua dapat merekam kejadian tersebut sebagai bahan konsultasi medis di kemudian hari," tambahnya.

Kapan Orangtua Harus Waspada?

Penting bagi orang tua untuk bisa membedakan antara night terror dengan kejang. Night terror biasanya memiliki durasi lebih lama dengan gerakan yang bervariasi, sementara kejang cenderung singkat dan memiliki pola gerakan yang sama (stereotip) setiap kali terjadi.

Segera konsultasikan ke dokter jika:
  • Episode terjadi sangat sering.
  • Gerakan anak selalu sama dan berlangsung sangat singkat.
  • Kejadian menyebabkan cedera fisik pada anak.
  • Dibutuhkan pemeriksaan EEG (electroencephalography) untuk memastikan aktivitas gelombang otak.

Sebagai penutup, Yeni menegaskan bahwa pada sebagian besar kasus, night terror adalah bagian dari proses pematangan sistem saraf yang akan membaik seiring bertambahnya usia. Pemahaman rasional dari orang tua dan pola tidur yang teratur menjadi fondasi utama dalam menghadapi kondisi ini. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya