Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah kesibukan pekerjaan yang kian padat, menjaga kedekatan emosional dengan anak kerap menjadi tantangan bagi orangtua urban. Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan, menekankan bahwa kunci utama hubungan yang harmonis bukanlah durasi waktu, melainkan kualitas interaksi yang terbangun.
Sani menjelaskan bahwa bagi orangtua yang bekerja, meluangkan waktu satu jam setiap hari mungkin terasa berat. Namun, manfaat keterikatan emosional (emotional attachment) tetap bisa diraih meski dalam waktu yang singkat.
“Kadang orangtua sekarang bekerja, itu susah sekali mencari waktu satu jam bersama setiap harinya. Tapi dengan 15 menit saja bersama berkualitas, bisa berbagi cerita, ketawa, memeluk, itu lebih bagus kedekatannya atau manfaat emotional attachment-nya,” ujar Sani, dikutip Senin (16/3).
Sani mengingatkan bahwa kebersamaan bisa dilakukan oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan.
Namun, ia memberi catatan penting: komunikasi yang baik tidak muncul secara instan. Kebiasaan ini idealnya dibangun sejak anak masih kecil agar terus berlanjut hingga mereka remaja dan dewasa.
Dalam membangun dialog, orangtua disarankan untuk menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan diri.
Sani menekankan pentingnya bertanya tanpa nada menginterogasi, menghakimi, atau memberikan label negatif kepada anak.
Bagi orangtua yang baru memulai membangun kedekatan saat anak sudah besar, Sani memberikan pesan optimistis.
“Memang akan sulit ketika kebiasaan itu tidak terbangun dari kecil dan harus perlahan-lahan dimulai untuk membangun kedekatan. Tidak ada kata terlambat, tapi yang terpenting adalah niat baik untuk memperbaiki komunikasi dan hubungan,” tuturnya.
Menariknya, Sani berpendapat bahwa penggunaan gawai di rumah tidak selamanya berdampak buruk, asalkan digunakan sebagai media interaksi. Aktivitas seperti bermain gim atau menonton film bersama bisa menjadi sarana diskusi mengenai jalan cerita atau strategi permainan.
Jika ingin menghindari layar, orang tua bisa beralih ke aktivitas fisik atau permainan papan seperti ular tangga, catur, hingga petak umpet. Fokus utamanya tetap pada komunikasi yang terjalin selama aktivitas tersebut berlangsung.
“Yang jelas ada komunikasi membahas hal itu, sehingga tidak hanya mainnya, tapi lebih ke arah kedekatan secara emosional dan membangun hubungan dua arah tadi melalui gawai sebagai materialnya atau tools-nya gitu, sebagai medianya,” imbuh Sani.
Langkah ini sejalan dengan kampanye #SatuJamBerkualitas yang digalakkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Program tersebut mengajak keluarga Indonesia untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di tengah kepungan penggunaan media sosial yang masif di kalangan generasi muda. (Ant/Z-1)
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Hadapi kerasnya orang tua otoriter! Temukan solusi cerdas membangun hubungan harmonis di era keluarga modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved