Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Penemuan fosil Spinosaurus di Gurun Sahara membuka bab baru dalam pemahaman ilmuwan tentang salah satu dinosaurus predator paling unik yang pernah hidup di Bumi. Temuan ini menunjukkan bahwa Spinosaurus kemungkinan bukan penyelam air seperti yang selama ini diperkirakan.
Tim peneliti yang dipimpin oleh paleontolog Paul C. Sereno dari University of Chicago, Amerika menemukan fosil spesies baru yang dinamai Spinosaurus mirabilis di wilayah terpencil Niger, bagian dari Gurun Sahara.
Temuan ini memberikan bukti bahwa Spinosaurus kemungkinan lebih cocok digambarkan sebagai predator semiakuatik yang berburu di perairan dangkal, bukan penyelam laut seperti yang pernah digambarkan dalam film “Jurassic World Rebirth”.
Selama ini, sebagian besar fosil Spinosaurus ditemukan di wilayah pesisir yang dulunya berada dekat laut. Hal ini membuat banyak ilmuwan menduga bahwa dinosaurus tersebut hidup dan aktif berburu di lautan.
Namun, lokasi penemuan fosil Spinosaurus mirabilis ini ditemukan di daerah yang pada masa sekitar 95 juta tahun lalu merupakan cekungan daratan dengan jaringan sungai luas. Wilayah yang dikenal sebagai Jenguebi itu diperkirakan berada sekitar 500 hingga 1.000 kilometer dari garis pantai terdekat pada masa Cenomanian di periode Late Cretaceous.
Di sedimen tepi sungai tersebut, para peneliti menemukan kerangka Spinosaurus berdampingan dengan fosil dinosaurus herbivora berleher panjang dari kelompok Titanosauria dan Rebbachisauridae. Temuan ini menunjukkan bahwa hewan-hewan tersebut hidup di lingkungan yang sama, yaitu habitat air tawar di pedalaman.
Berdasarkan analisis anatomi tubuhnya, para peneliti menduga Spinosaurus tidak berburu dengan cara menyelam di air dalam. Sebaliknya, dinosaurus ini kemungkinan berjalan di perairan dangkal untuk menyergap ikan. Cara berburu tersebut mirip dengan burung air modern seperti bangau yang berdiri di perairan dangkal sebelum dengan cepat menyambar mangsanya.
Perhitungan terhadap volume paru-paru serta rongga udara dalam tulang Spinosaurus juga menunjukkan bahwa tubuhnya cenderung mudah mengapung. Struktur rongga udara yang mirip dengan burung modern membuat dinosaurus ini sulit tenggelam sepenuhnya di dalam air.
Selain itu, panjang anggota tubuhnya dinilai tidak cocok untuk digunakan sebagai alat dayung seperti pada hewan penyelam.
Salah satu ciri paling mencolok dari Spinosaurus mirabilis adalah jambul besar di bagian atas kepalanya. Struktur tulang berbentuk seperti bilah pedang melengkung ini memanjang dari moncong dan melengkung ke arah belakang hingga melewati bagian mata.
Inti tulang jambul tersebut diperkirakan mencapai panjang sekitar 40 sentimeter. Ketika masih hidup, struktur ini kemungkinan dilapisi keratin, yaitu material yang sama dengan kuku dan rambut manusia, sehingga ukurannya bisa melebihi setengah meter. Para peneliti menduga jambul ini berfungsi sebagai sarana komunikasi visual, misalnya untuk menunjukkan ukuran tubuh, tingkat kedewasaan, atau menarik pasangan.
Selain jambulnya, Spinosaurus juga memiliki moncong panjang dan sempit. Bentuk rahangnya menyerupai buaya bermoncong panjang dan dirancang untuk menangkap mangsa air dengan cepat. Susunan gigi pada rahang atas dan bawah saling mengunci dengan presisi, sehingga efektif untuk menjebak ikan yang bergerak cepat.
Meski ikan kemungkinan menjadi makanan utamanya, ukuran tubuh Spinosaurus yang bisa mencapai lebih dari tujuh ton membuatnya tetap menjadi predator yang sangat berbahaya di lingkungannya.
Menurut para peneliti, kelompok Spinosaurus berkembang sejak periode Jurassic dan mencapai puncak kejayaan pada masa Early Cretaceous di sepanjang wilayah Tethys Sea.
Namun, sekitar 95 juta tahun lalu, perubahan iklim global menyebabkan kenaikan permukaan laut secara drastis. Peristiwa ini membentuk jalur laut baru yang dikenal sebagai Trans-Saharan Seaway, yang menenggelamkan banyak sistem sungai dangkal di Afrika Utara.
Hilangnya habitat sungai dan rawa yang menjadi tempat hidup Spinosaurus kemungkinan menjadi penyebab utama kepunahan kelompok dinosaurus ini. Tanpa kemampuan beradaptasi menjadi penyelam laut, garis keturunan spinosaurid akhirnya punah. (ars technica/E-3).
Mahasiswa Virginia Tech berhasil merekonstruksi fosil dinosaurus purba yang hancur. Spesies baru ini diperkirakan tiga kali lebih tua dari T-Rex dan jadi petunjuk evolusi dinosaurus.
Peneliti Virginia Tech mengungkap Ptychotherates bucculentus, dinosaurus karnivora dari periode Trias yang hidup jauh sebelum T-Rex. Simak fakta uniknya.
Fosil Haolong dongi ditemukan dalam kondisi sangat terawat di formasi batuan Yixian, salah satu situs fosil penting di Tiongkok yang terkenal dengan penemuan berbagai spesies.
Ilmuwan menemukan fosil lengkap kedua Alnashetri di Argentina. Dinosaurus kecil seukuran ayam ini mematahkan teori miniaturisasi dalam evolusi alvarezsauroid.
Para ilmuwan menemukan gigi Tyrannosaurus tertancap di tengkorak Edmontosaurus berusia 66 juta tahun. Temuan langka ini mengungkap interaksi predator dan herbivora di akhir zaman Kapur.
Penelitian terbaru mengungkap dinosaurus herbivora tidak makan sembarangan, melainkan menggunakan gigi depan untuk memilih bagian tumbuhan tertentu.
Penelitian dari Chinese Academy of Sciences menunjukkan bahwa pola keausan pada gigi Psittacosaurus mengindikasikan kebiasaan makan.
Di lokasi yang berada sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut tersebut, para ilmuwan menemukan harta karun berupa jejak kaki dari setidaknya lima spesies hewan yang berbeda.
PENEMUAN paleontologis di wilayah Xinjiang, Tiongkok berhasil mengungkapkan 'lubang kematian' berusia 160 juta tahun yang menjebak banyak dinosaurus kecil.
Bukti menunjukkan bahwa 10% duri yang ditemukan pada fosil Stegosaurus rusak di ujungnya sehingga memperkuat asumsi ilmuwan mengenai fungsi pertahanan dari dari thagomizer tersebut.
Dinosaurus yang diberi nama Doolysaurus huhmini ini merupakan jenis neornithischian awal yang berhasil diidentifikasi melalui teknologi pemindaian CT canggih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved