Awalnya hanya Mendaki, Wanita Ini Justru Temukan Jejak Kehidupan 280 Juta Tahun di Italia, Era sebelum Dinosaurus

Nadhira Izzati A
22/4/2026 10:00
Awalnya hanya Mendaki, Wanita Ini Justru Temukan Jejak Kehidupan 280 Juta Tahun di Italia, Era sebelum Dinosaurus
Ilustrasi(Elio Della Ferrera/Museo di Storia Naturale di Milano)

SEBUAH penemuan luar biasa terjadi di ketinggian Pegunungan Alpen, Italia, ketika seorang pendaki bernama Claudia Steffensen tanpa sengaja menginjak fosil peninggalan masa lalu. 

Penemuan ini mengungkap keberadaan ekosistem lengkap dari periode Permian, sekitar 280 juta tahun yang lalu—sebuah masa jauh sebelum dinosaurus pertama kali menginjakkan kaki di Bumi.

Tak Sengaja Ditemukan saat Mendaki

Peristiwa ini bermula pada tahun 2023 di Taman Alam Valtellina Orobie, Provinsi Sondrio. Saat itu, Steffensen sedang mendaki bersama suaminya untuk menghindari cuaca panas. Di jalur berbatu yang baru saja tersingkap akibat mencairnya es dan salju, perhatiannya tertuju pada sebuah lempengan batu yang janggal.

“Saya menginjak sebuah batu, yang bagi saya terasa aneh karena tampak lebih seperti lempengan semen. Saya kemudian melihat desain melingkar yang aneh dengan garis-garis bergelombang. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa itu adalah jejak kaki.” 

Merasa penasaran, ia memotret temuan itu dan mengirimkannya kepada seorang teman fotografer alam, yang kemudian meneruskannya kepada paleontolog Cristiano Dal Sasso dari Museum Sejarah Alam Milan.

Berbagai Jenis Fosil Ditemukan

Penemuan ini segera memicu operasi penelitian besar-besaran yang melibatkan ahli paleontologi dan geologi dari Milan hingga Berlin. 

Di lokasi yang berada sekitar 3.000 meter di atas permukaan laut tersebut, para ilmuwan menemukan harta karun berupa jejak kaki dari setidaknya lima spesies hewan yang berbeda, mulai dari serangga, artropoda, amfibi, hingga reptil prasejarah. 

Meskipun dinosaurus belum ada pada masa itu, beberapa pemilik jejak kaki tersebut diperkirakan memiliki ukuran yang cukup besar, mencapai panjang dua hingga tiga meter.

Luar biasanya, kualitas pelestarian fosil-fosil ini sangat detail. Selain jejak kaki, para peneliti menemukan jejak ekor yang terseret, fragmen tanaman, biji-bijian, hingga cetakan tetesan air hujan purba yang membeku dalam waktu. 

Mengapa Bisa Awet?

Geolog Ausonio Ronchi menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena jejak-jejak tersebut tertinggal saat batuan tersebut masih berupa pasir dan lumpur basah di tepi sungai atau danau purba.

“Matahari musim panas, yang mengeringkan permukaan ini, mengeraskannya sedemikian rupa sehingga kembalinya air baru tidak menghapus jejak tersebut, melainkan justru menutupinya dengan tanah liat baru, membentuk lapisan pelindung.”

Ketajaman detail pada fosil ini bahkan memungkinkan para ahli untuk melihat tekstur kulit dan bekas kuku hewan tersebut. Spesialis sedimentologi Lorenzo Marchetti menambahkan, “Butiran sedimen yang sangat halus, yang kini telah membatu, telah memungkinkan pelestarian detail yang mengesankan, seperti sidik jari dan kulit perut beberapa hewan.” 

Namun, para ilmuwan juga melihat adanya peringatan. Tersingkapnya fosil-fosil ini merupakan dampak langsung dari pencairan es akibat pemanasan global saat ini. Ironisnya, periode Permian sendiri berakhir dengan peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan sekitar 90% spesies di bumi akibat pemanasan global yang cepat. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya