Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT campak tidak hanya berbahaya karena risiko komplikasi, tetapi juga karena tingkat penularannya yang sangat tinggi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan virus campak dapat menyebar dengan cepat, terutama jika cakupan imunisasi di masyarakat masih rendah.
Ketua Jawa Barat IDAI sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropik IDAI Anggraini Alam menjelaskan bahwa virus campak menyebar melalui udara atau airborne. Karena itu, penularannya sulit dikendalikan di lingkungan padat dengan ventilasi yang kurang baik.
“Campak itu airborne, via udara. Ada yang batuk, ada yang bersin. Bahkan seperti saya ini bicara, maka si virus itu bisa melayang-layang,” ujarnya, Sabtu (28/2).
Ia mengatakan virus campak dapat bertahan di udara maupun menempel pada permukaan benda lebih dari dua jam setelah dikeluarkan oleh penderita. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penularan, terutama di ruang tertutup.
Dalam situasi tertentu, satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan virus kepada banyak orang dalam waktu singkat. Tingkat penularan campak disebut sangat tinggi, bahkan satu kasus dapat menginfeksi hingga 18 orang lainnya. “Bayangkan dari satu itu bisa ke 18,” kata Anggraini.
Penularan juga dapat terjadi sebelum gejala muncul. Masa inkubasi campak yang dapat berlangsung hingga tiga minggu membuat seseorang tetap berpotensi menyebarkan virus meskipun belum menunjukkan tanda-tanda sakit. “Nggak ada yang tahu kan kalau dia bawa virus itu sudah menular,” tambahnya.
Penderita umumnya baru menyadari infeksi setelah muncul ruam pada kulit. Namun, pada fase tersebut penularan sudah dapat terjadi sejak beberapa hari sebelumnya. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) di masyarakat apabila pengendalian tidak dilakukan secara optimal.
Menurut IDAI, tingginya kemampuan penularan campak membuat perlindungan individu saja tidak cukup. Untuk mencegah wabah, diperlukan kekebalan kelompok atau herd immunity yang hanya dapat dicapai jika cakupan imunisasi mencapai sedikitnya 94 persen secara merata di populasi.
Dengan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, virus campak juga berpotensi menyebar lintas wilayah hingga lintas negara. Karena itu, imunisasi dinilai sebagai langkah paling efektif untuk menekan risiko penularan dan mencegah terjadinya wabah di tengah masyarakat. (Ata/I-1)
IDAI mendorong daycare mematuhi regulasi PAUD dan standar nasional untuk mencegah kekerasan anak serta memastikan tumbuh kembang yang optimal.
Setiap lembaga pengasuhan anak wajib menyediakan fasilitas yang dapat dipantau langsung, seperti CCTV, agar orang tua memiliki akses terhadap apa yang terjadi pada anaknya.
Guru daycare diharapkan memiliki kompetensi pemenuhan kesehatan anak, termasuk apabila terjadi kecelakaan seperti tersedak, tersetrum, dan sebagainya.
IDAI menegaskan bahwa daycare atau Taman Penitipan Anak (TPA) seharusnya dipahami sebagai tempat pengasuhan, bukan sekadar tempat menitipkan anak.
Campak kembali mengancam anak-anak di Indonesia. IDAI ungkap satu penderita bisa menulari hingga 18 orang, risiko pneumonia hingga kematian meningkat.
IDAI menyatakan vaksin influenza trivalen aman bagi balita mulai usia 6 bulan, ibu menyusui, dan komorbid. Simak dosis dan rekomendasi WHO terbaru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved